KITA BUKTIKAN BERSAMA BAHWA NENGKELAN BISA!!



partisipasi masyarakat


Mengacu pada rencana tata ruang dan pembangunan Desa Nengkelan sebagai pedoman pengendalian pembangunan dalam kaitannya perubahan penataan ruang dan pemanfaatan hasil potensi sumber daya secara optimal, terarah dan berkelanjutan.

Penataan pembangunan secara umum di Desa Nengkelan diarahkan untuk penataan, pengembangan dan pengendalian pembangunan guna terciptanya keserasian baik dalam struktur maupun pemanfaatan sebagai rumusan arahan kebijakan yang terkoordinasi baik antar wilayah maupun antar sector pembangunan

Dengan demikian perencanaan ruang tersebut merupakan suatu upaya agar terjadi interaksi mahluk hidup dengan lingkungan dapat selaras, seimbang dan dapat berkelanjutan yang secara khusus sebagai proses pembentukan karakter pembangunan.

Strategi pembangunan di Desa Nengkelan ini secara dominan diarahkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi guna proses ke arah kesejahteraan, walau terkesan dipaksakan karena berbagai keterbatasan baik sarana prasarana pembangunan tersebut maupun peran Sumberdaya manusia dan kelembagaannya, dimana hasil pembangunan tersebut sudah dapat dirasakan oleh warga    masyarakat.

Disamping itu, dalam upaya mencapai tujuan dan cita-cita Desa Nengkelan dan terselenggaranya kepemerintahan yang baik, peran serta masyarakat merupakan prasyarat mutlak. Dimana masyarakat merupakan komponen utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah.

Seiring dengan semangat otonomi daerah yang bertujuan untuk meningkatkan keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi seluruh unsur bangsa, meningkatkan keterlibatan serta partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan dan juga membangun saling kepercayaan antara masyarakat juga antara masyarakat dengan pemerintah. Dengan adanya partisipasi masyarakat yang aktif dan positif, maka akan berpengaruh terhadap perkembangan pembangunan di Desa Nengkelan.

Profil Kepala Desa Nengkelan


Dede Sofyan S, S.Ag yang akrab dengan panggilan “Akang” yang lahir pada tanggal 20 Agustus 1969 adalah seorang Kepala Desa Nengkelan Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, beliau memulai menjadi seorang Kepala Desa  pada tahun 2007 hingga 2013, beliau adalah seorang pemimpin yang sangat tegas dan cepat tanggap dalam  menyikapi dan menyelsaikan berbagai permasalahan baik dilingkungan kepemerintahan ataupun dilingkungan masyarakat.

Selama menjabat sebagai Kepala Desa, beliau banyak menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan masyarakat Desa Nengkelan, dan bahkan terkadang  waktu dan tempat tak menjadi halangan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya beliau  di dampingi oleh Sang isteri tercinta (Ela Komalasari, S.Pd)  yang senantiasa berperan aktif dalam memberdayakan khususnya kaum wanita dan sekaligus beliau adalah Ketua Tim Penggerak PKK Desa Nengkelan.

Keinginan, semangat dan kegigihan keduanya dalam membangun Desa Nengkelan menjadikan Nengkelan saat ini sebagai Desa yang lebih baik dari kemarin dan mudahan-mudahan menjadikan Desa Nengkelan yang lebih baik lagi dimasa mendatang.

Rangkaian Kegiatan Hari Raya Idul Fitri 1433 H


Esok adalah harapan..

Sekarang adalah pengalaman..

Kemarin adalah kenangan yang tak pernah luput dari kehilapan,

dan bila dalam kata dan perbuatan kami  tergores salah dan khilaf, maka kami selaku dan atas nama Pemerintah Desa Nengkelan dengan segala kerendahan hati mengucapkan “Mohon Maaf Lahir Bathin” dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.

PERINGATAN DIRGAHAYU RI


Kelemahan kita ialah kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong, dan mari dalam memperingati HUT RI yang ke-67 kita tingkatkan kebersamaan dan sabilulungan, gotong royong membangun bangsa ini.

SABILULUNGAN RAKSA DESA


Gotong royong adalah salah satu wujud kerukunan paling nyata antar masyarakat. Ketika ada satu masalah, seluruh lapisan masyarakat, kaya atau miskin, berjuang bersama-sama dalam satu semangat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Gotong royong juga adalah wujud soliditas masyarakat atau kalau dalam bahasa jawa keguyuban yang terjadi diantara warga. Bahwa ada kebersamaan yang terjalin secara suka rela dan ikhlas, tanpa perlu meminta pamrih, bekerja bersama tanpa mempermasalahkan status sosial.

Namun, bisa jadi indahnya gotong royong tinggal menjadi kenangan. Era modern dan globalisasi yang meniupkan semangat individualisme serta kapitalisme menghancurkan budaya ini sedikit demi sedikit. Orang lebih suka untuk mengeluarkan uang guna membayar pekerja ketimbang mengeluarkan tenaga bekerja bersama-sama dengan yang lainnya. Benarkah telah terjadi evolusi dalam masyarakat kita,  masyarakat sederhana yang dulunya mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif, berubah menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan yang terspesialisasi dan impersonal?

Untuk itu, mari kita bersama-sama   menjaga Budaya warisan leluhur kita dan Gotong Royong membangun Desa Nengkelan ini, “da lamun lain ku urang dek kusaha”..

safari ramadhan dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah islamiyyah


Gambar

Wening ati nu kapamrih jembar manah nu kateda, rumaos seueur dosa sinareng kalepatan ,… Hangkeutkeun kadeudeuh dina dalitna ka asih Gusti, mugia Boboran Siam sing janten cukang lantaran urang tiasa sinawur sareng karidhoan nu Maha Heman. Wilujeng Boboran Siam …. Taqabbalallahu Minna wa Minkum,Syiyamana Wasyiya makum..

SISTEM DAN DENA…


SISTEM DAN DENAH DALAM MEMBUAT KANDANG SAPI PERLU DIPERHITUNGKAN??

        Pada dasarnya kondisi ideal untuk Sapi adalah dalam keadaan bebas di alam terbuka, hanya saja Karena keterbatasan lahan untuk peternak sapi, maka perlu diupayakan  pembuatan  kandang agar cukup ideal untuk sapi perah

 

Tujuan pembuatan kandang:

  • Kandang baru tersebut akan bertahan selama bertahun-tahun. Rencana dan desian yang baik menjadi hal yang sangat penting
  • Sapi merasa nyaman, dengan sapi nyaman, maka akan memberikan susu yang lebih banyak
  • Kebersihan kandang cukup  baik , sehingga bisa dihasilkan susu yang lebih baik kualitasnya dan harganya pun akan lebih baik

Kebutuhan Dasar Kandang sapi perah:

  • Menyenangkan dan lingkungannya sehat untuk sapi
  • Kondisi hygiene/kebersihannya baik agar kualitas susu bisa optimal
  • Tenaga kerja efisien dan kondisi lingkungan kerja enak
  • Investasi ekonomis dan biaya bisa ditekan
  • Desain bisa beradaptasi dengan kondisi lokal
  • Memungkinkan perluasan dengan biaya minim/sedikit

Kondisi Kandang pada umumnya di Indonesia:

Kondisi

Gambar

Kelebihan dan Kekurangan

1

 
  • Ventilasi Cukup dan tertutup, TETAPI
  • Sulit menjaga sapi tetap bersih
  • Lantai kayu beresiko meningkatkan kasus mastitis
  • Tidak akan nyaman pada karpet basah

2

 
  • Karpet keras, kaki sapi cepat luka
  • Lantai basah, bakteri mudah berkembang
  • Atap pendek, udara kurang

3

 
  • Tempat makan tinggi dan sulit dibersihkan
  • Tidak ada air minum
  • Tempat kotoran sapi bermasalah

Dari gambaran di atas, hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat kandang antara lain:

  • Desain dasar, ukuran dan tata letak kandang
  • Suasana (iklim) dan ventilasi / sirkulasi udara
  • Tempat dan pembuangan kotoran
  • Pakan dan supplai pakan
  • Tempat istirahat dan area  untuk berjalan
  • Tempat pemerahan dan penyimpanan susu
  • Perlakuan khusus dan penanganan sapi  (sapi sakit  atau melahirkan)

Uraian

Gambar

Keterangan

1. Desain dasar, ukuran dan tata letak kandang

 

Panjang dan lebar nya sesuai dengan ukuran sapi, jadi kotoran sapi akan jatuh tepat di pembuangan

2. Suasana Iklim dan sirkulasi udara (Ventilasi)

Salah..

Udara hanya mengalir searah dan tidak ada Sirkulasi

 

Salah..

Udara hanya mengalir searah dan tidak ada Sirkulasi

 

Benar..

Udara dapat mengalir dan tersirkulasi, sehingga udara panas akan mengalir keatas

 

Sapi dengan produksi tinggi menghasilkan panas yang banyak dan  dikeluarkan melalui respirasinya.  Kebutuhan udara segar dan dingin menjadi sebuah keharusan  untuk sapi.

Ventilasi alami

3. Pakan, supplai pakan dan tempat pakan

Terlalu Tinggi

 

Pakan dan tempat pakan

  • Sistem pemberian pakan  (TMR atau Basic Ratio)
  • Pemberian konsentrat per indivual
  • Jumlah tempat makan di dalam kandang
  • Jenis rak tempat pakan dan ketersediaan nya.

4. Tempat Minum

Dengan Wadah Khusus

  1. Air akan Otomatis menyala Jika Sapi “Membuka” Kran nya.
  2. Air yang mengalir berasal dari Penampung air (Torn)
  3. Tekanan Air harus tinggi, sehingga Sapi akan cukup minum (Jika kran di buka, dalam 15 Detik Wadah  tsb harus penuh)

 

Dengan Pelampung

  1. Desain tempat minum seperti biasa
  2. HARUS Menggunakan Penampung air (Torn)
  3. Gunakan sistem pelampung, agar ketersediaan air terus terjaga

 

Pilihan yang memungkinkan :

  • Tempat minum bertekanan tinggi
  • Sistem gravitasi, tekanan rendah
  • Bertekanan tinggi
  • Air mengalir

Apapun pilihannya :

Ketersediaan  air yang cukup, terus menerus dan cepat  merupakan keharusan, terutama untuk sapi berproduksi tinggi

5. Jenis Bedding (tempat rebahan)

 
  • Bedding dengan pasir, pasir campur serbuk gergaji atau jerami
  • Karpet dengan sedikit  serbuk gergaji
  • Karpet yang empuk tanpa serbuk gergaji

JENIS-JENIS / TIPE KANDANG

Berdasarkan ukurannya tipe kandang dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Free Stall (Kandang Lepas)
  2. Tipe Tali (Strap)  a. String Strap (Tali)

b. Caro Style

c. Head Rail (Batasi Kepala)

Free Stall (Kandang Lepas)

 

Moderen dan mewah

 

Sederhana

Tipe dengan Tali

 

String Strap

 

Caro

 

Head Rail

UKURAN KANDANG

Ukuran / dimensi kandang merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, dalam hal ini hubungan nya dengan kebersihan dan kenyamanan Sapi. Dari dua jenis kandang diatas, yang paling membedakan adalah ukuran nya. Sedangkan untuk kandang dengan tipe tali, walaupun dari segi pengikat nya terbagi menjadi 3 macam (Caro, head rail dan string strap) tetapi dalam hal ukuran nya SAMA SAJA. Berikut uraiannya:

  1. Free Stall (Kandang Lepas)

Gambar umum

Feed Rack

 

1.2 meter

 

2.4 meter

 

3.5 meter

 

2. Tipe Tali (Head Rail, String Strap, Caro)

Pada prinsipnya ketiga tipe kandang ini memilki ukuran kandang yang sama. Perbedaan terletak hanya pada jenis atau model pembatas sapinya, ada yang memakai Tali (String Strap), Besi melengkung (Caro) dan besi lurus (Head Rail). Berikut Tampak Samping Secara Umum:

Tipe Pembatas Sapi Yang Berbeda

     

Ukuran Kandang Yang Sama

String Strap

Caro Style

Head Rail

Secara umum yang Harus Di perhatikan adalah sbb:

  1. Ukuran Kandang Harus tepat agar kebersihan kandang mudah dijaga, termasuk kemiringan dari tempat sapi berdiri, agar tidak ada genangan air yang menggenang di tempat sapi berdiri tsb.
  2. Ketinggian kandang harus pas (Minimal 2.5 M) untuk ventilasi atau sirkulasi udara yang baik.
  3. Ketersediaan air minum yang selalu tersedia dan cepat, dengan tekanan yang cukup dari tempat penampung nya.
  4. Dengan Desain dan ukuran yang baik, Kebersihan kandang dan kenyamanan sapi bisa tercapai dengan baik, dengan demikian susu dengan kualitas yang baik dan jumlah produksi yang meningkat akan bisa tercapai pula.

kegiatan pembangunan sarana olahraga di desa nengkelan kecamatan ciwidey


 

kegiatan pembangunan sarana olahraga di desa nengkelan kecamatan ciwidey

 

 

 

 

GAMBARAN UMUM D…


Gambar

GAMBARAN UMUM DESA NENGKELAN

  1. 1.        GAMBARAN UMUM DESA

a.             Demografi Dan Geografis Desa

1)             Keadan Geografis

          Desa Nengkelan adalah sebuah Desa yang terletak disebelah tenggara dari Pusat Pemerintahan Kecamatan Ciwidey yang berjarak ±3 KM dan sebelah barat dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung yang berjarak ±20 KM, dengan ketinggian 1000-1200 M di atas permukaan laut. Sebagian besar wilayah Desa Nengkelan terdiri dari bentangan bukit-bukit kecil dan daratan dengan kecuraman 15⁰-60⁰ di bagian sebelah Utara dan Barat wilayah Desa Nengkelan. Secara umum wilayah Desa Nengkelan relatif miring ke bagian selatan dengan kemiringan rata-rata 2 % dan sebagian besar wilayahnya dijadikan perkebunan palawija, sayuran , pesawahan. Secara administratif wilayah Desa  Nengkelan dibatasi oleh:

  • Sebelah Utara    : Kecamatan Sindangkerta dan Desa Sukawening
  • Sebelah Selatan : Desa Lebakmuncang dan Desa Mekarmaju
  • Sebelah Barat    : Desa Rawabogo
  • Sebelah Timur    : Desa Sukawening

Secara visualisasi, wilayah administratif Desa Nengkelan dapat dilihat pada peta sbb :

Peta Desa Nengkelan

 

 

2)             Iklim dan Curah Hujan

          Desa Nengkelan secara umum beriklim sama seperti daerah diwilayah indonesia bagian barat yaitu beriklim tropis dengan suhu rata-rata berkisar antara 16⁰-20 ⁰Celcius, dengan curah hujan tahunan berkisar antara 3000-5000mm dengan curah hujan terendah terjadi pada pertengahan tahun antara bulan juli sampai bulan september.

3)             Hidrologi dan Klimatologi

Berdasarkan hidrologinya, aliran-aliran sungai yang ada di wilayah Desa Nengkelan membentuk pola Daerah Alirah Sungai (DAS) Cangkorah Tercatat beberapa sungai maupun solokan yang terdapat di Desa Nengkelan, yaitu :

a)             Sungai Cangkorah (yang berbatasan dengan Desa Sukawening)

b)             Sungai Saninten (yang berbatasan dengan Desa Rawabogo)

Selain itu, mata air utama yang dapat digunakan sebagai sumber air bersih dan sumber air untuk pertanian yang terdapat di Desa Nengkelan diantaranya adalah sbb :

a)             Mata Air Cisusu Beas yang terdapat di Kampung Cisegok

b)             Mata Air Sikluk yang terdapat di Kampung Sikluk

c)             Mata Air Sadakelir yang terdapat di Kampung Sadakelir

d)            Mata Air Cisaladah yang terdapat di Kampung Sadakelir

e)             Mata Air Bitung yang terdapat di Kampung Bitung

f)              Mata Air Kinangki yang terdapat di Kampung Kinangki

g)             Mata Air Citisuk  yang terdapat di Kampung Citisuk

Berikut ini sumber air bersih yang aktif saat musim kemarau dan musim penghujan :

SUMBER AIR BERSIH

SUMBER AIR BERSIH

MUSIM KEMARAU

Sumur Pompa

30 Unit

30 Unit

Sumur Gali

940 Unit

749 Unit

Mata Air, PMA

7 Lokasi

7  Lokasi

Sungai

4  Lokasi

4  Lokasi

4)             Luas Wilayah

          Secara umum Desa Nengkelan memiliki luas wilayah ±346,183 Ha,  yang terbagi menjadi 13RW (RUKUN WARGA) dan 53 RT (RUKUN TETANGGA) dengan luas masing-masing wilayah :

  1. RW 01 memiliki luas wilayah ±11,678 Ha dan terbagi menjadi 4 RT
    1. RW 02 memiliki luas wilayah ±14.243 Ha dan terbagi menjadi
    2. RW 03memiliki luas wilayah ±15,388 Ha dan terbagi menjadi 3RT (Rukun Tetangga)
    3. RW 04 memiliki luas wilayah ±14,989 Ha dan terbagi menjadi 4 RT
    4. RW 05 memiliki luas wilayah ±98,824 Ha dan terbagi menjadi 4 RT
    5. RW 06 memiliki luas wilayah ±20,879 Ha dan terbagi menjadi 5 RT
    6. RW 07 memiliki luas wilayah ±5,449 Ha dan terbagi menjadi 3 RT
    7. RW 08 memiliki luas wilayah ±14,976 Ha dan terbagi menjadi 5 RT
    8. RW 09 memiliki luas wilayah ±21,143 Ha Ha dan terbagi menjadi
    9. RW 10 memiliki luas wilayah ±101,596 Ha Ha dan terbagi menjadi 3 RT
    10. RW 11 memiliki luas wilayah ±10,543 Ha dan terbagi menjadi 4 RT
      1. RW 12 memiliki luas wilayah ±5,680 Ha dan terbagi menjadi 3 RT
      2. RW 13memiliki luas wilayah ±10,795 Ha dan terbagi menjadi 4 RT

Jika dilihat dari tabel Luas wilayah Desa Nengkelan adalah seperti yang tampak dibawah ini.

Tabel Luas Wilayah Desa Nengkelan

5)             Kondisi Lahan

          Kondisi lahan di Desa Nengkelan sebagaian besar adalah tanah darat sawah yang digunakan untuk pemukiman penduduk dengan luas areal ±99,008 Ha dan sebagai lahan fasilitas umum dengan luas areal ±8,655 Ha. Sedang tanah sawah yang pemanfaatannya masih digunakan sebagai areal pesawahan penduduk memiliki luas ±167,131 Ha, tanah kering ±53,389 Ha dan tanah hutan ±16 Ha, serta tanah perkebunan teh rakyat dengan luas ±2 Ha.

Pada umumnya, lahan yang terdapat di Desa Nengkelan digunakan secara produktif dan hanya sedikit saja yang tidak dipergunakan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Desa Nengkelan memiliki sumber daya alam yang memadai dan siap untuk diolah. Berikut ini Luas Lahan menurut Jenis Penggunaannya :

No

URAIAN

LUAS

1

Luas Wilayah

346,183 Ha

2

Sawah Teknis

167,131 Ha

3

Sawah ½ Teknis

– Ha

5

Tanah Kering

53,389 Ha

6

Tanah Basah

167,131 Ha

7

Hutan Rakyat

16 Ha

8

Hutan Negara

-. Ha

9

Perkebunan

– Ha

Grafik Pemanfatan Lahan Di Wilayah Desa Nengkelan

  1. b.             Kependudukan

1. Jumlah Penduduk

          Penduduk Desa Nengkelan pada umumnya tersebar diantara 3 RW (Rukun Warga) yang memiliki ranking tiga teratas yaitu RW 06, RW 08, dan RW 11 dengan kepadatan penduduknya, hampir sepertiga persen dari jumlah penduduk di Desa Nengkelan yang Jumlah Penduduknya ±5280 Jiwa (Hasil Coklit 2010) menghuni tiga rukun warga tersebut, secara rinci jumlah penduduk di Desa Nengkelan dapat dilihat dalam tabel berikut.

 

 

Tabel Jumlah Penduduk Desa Nengkelan Tahun 2011

NO

NAMA RW

PENDUDUK

L

P

L+P

KK

1.

RW 01

241

214

455

116

2.

RW 02

183

188

371

146

3.

RW 03

211

214

425

134

4.

RW 04

192

164

356

124

5.

RW 05

181

168

349

103

6.

RW 06

385

354

739

176

7.

RW 07

143

168

311

83

8.

RW 08

322

305

627

198

9.

RW 09

130

144

274

96

10.

RW 10

159

125

284

76

11.

RW 11

200

208

408

146

12.

RW 12

132

184

316

86

13.

RW 13

196

169

365

106

JUMLAH

2675

2605

5280

1590

          Secara persentase penyebaran dan kepadatan jumlah penduduk di Desa Nengkelan lebih banyak di 3 RW tersebut, hal ini dapat digambarkan dalam Demografi Penduduk Desa Nengkelan Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung seperti yang tampak pada gambar dibawah ini.

No

URAIAN

JUMLAH GURU

JUMLAH MURID

KET.

 
 

1

TK/RA/PAUD

4 unit

150 orang

 

 

2

SD/MI

4 Unit

975 orang

 

 

3

SLTP/ Tsanawiyah

2 unit

375 orang

 

 

4

SLTA/ Aliyah

1 unit

90 orang

 

 

Jumlah

11 unit

1590 orang

 

 

Grafik Demografi Jumlah Penduduk Desa Nengkelan

          Jika dilihat dari mata pencaharian, penduduk Desa Nengkelan di dominasi oleh penduduk yang bermatapencaharian sebagai buruh tani yang disebabkan karena selain tingkat pendidikan mereka yang kurang, adalah lahan garapan untuk bertani yang mereka miliki tidaklah seluas para petani di Indonesia pada umumnya.

Secara umum mata pencaharian penduduk Desa Nengkelan dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel Mata Pencaharian Penduduk Desa Nengkekan

No

Jenis Pekerjaan

Jumlah Penduduk

Tahun 2010

Tahun 2011

1.

Petani

196 orang

200 orang

2.

Buruh Tani

3240 orang

3270 orang

3.

Buruh Migran perempuan

8 orang

10 orang

4.

Pegawai Negeri Sipil

45 orang

45 orang

5.

Pengrajin Industri Rumah Tangga

15 orang

15 orang

6.

Pedagang

14 orang

16 orang

7.

Peternak

4 orang

4 orang

8.

Pengusaha kecil dan menengah

10 orang

10 orang

9.

Montir

4 orang

4 orang

10.

Bidan Swasta

1 orang

1 orang

11.

Pembantu Rumah Tangga

25 orang

23 orang

12.

TNI/ POLRI

1 orang

1 orang

13.

Pensiunan PNS/TNI/POLRI

30 orang

30 orang

14.

Dukun Kampung terlatih

4 orang

4 orang

15.

Dosen Swasta

2 orang

1 orang

16.

Karyawan Swasta

10 orang

13 orang

17.

Buruh Bangunan

141 orang

141 orang

  1. Sarana Prasarana Desa Nengkelan

Sarana dan prasarana Desa Nengkelan yang dimiliki saat ini belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan elemen masyarakatnya baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, social kemasyarakatan ataupun kesejahteraan masyarakat selain sara. Sarana Infrastruktur yang telah dimiliki saat ini adalah :

  1. Sarana Peribadahan

             Masjid                            : 15 Unit

             Mushola                         : 52 Unit

  1. Sarana Pendidikan
  2. Data Pendidikan

Data Jenis Sarana Pendidikan

No

JENJANG PENDIDIKAN

JUMLAH

LOKASI

 
 

1

TK / PAUD / RA

4 unit

RW 02,06,11,13

 

2

SD

3 unit

RW 10,11,13

 

3

MI

1 unit

RW 06

 

4

SLTP/ Tsanawiyah

2 unit

RW 06,11

 

5

SLTA/ Aliyah

1 unit

RW 11

 

6

Perguruan Tinggi

 

 

7

PKBM

 

 

Jumlah

11 unit

 

 
  1. Tingkat Pendidikan

Tidak Tamat SD

Tamat SD

Tamat SMP

Tamat SMA

Sarjana

248 orang

1283 orang

1113 orang

415 0rang

79 orang

  1. Sarana Kesehatan

             Poskesdes                                  : 1 Unit

             Posyandu                                   : 2 Unit

             Apotek/Warung Obat                : 1 Unit

  1. Tenaga Kesehatan

No

TENAGA KESEHATAN

JUMLAH

KETERANGAN

1

Medis

Dokter Umum

1 orang

 

Dokter Spesialis

 

2

Keperawatan

Bidan

3 orang

 

Perawat

 

3

Partisipasi Masyarakat

Dukun Bayi

4 orang

 

Posyandu

13 unit

 

Poskesdes

1 unit

 

POD

 

Desa Siaga

1 unit

 

Paraji Sunat

1 orang

 

Kader Kesehatan

13 orang

 

Sumber : Data Desa dan Desa Siaga Desa Nengkelan

  1. Jumlah Kelahiran

No

URAIAN

2009

2010

2011

 
 

1

Bayi Lahir Hidup

78 Orang

88 orang

83 orang

 

2

Jumlah Kematian Bayi

1 orang

1 orang

4 orang

 

Jumlah

79 orang

89 orang

87 orang

 
  1. PrasaranaUmum

             Jalan Kabupaten                                    : 5 KM

             Jalan Desa                                  : 6,16 KM

             Jembatan                                    : 5 Unit

             Irigasi Primer                             : 1 Unit

             Irigasi Sekunder                                    : 5 Unit

             Irigasi Pembagi                          : 5 Unit

  1. Kesejahteraan sosial masyarakat :
No

MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL

JUMLAH

KETERANGAN

1

Anak Terlantar

46 orang

 

2

Anak Nakal

 

3

Anak balita Terlantar

2 orang

 

4

Anak Jalanan

 

5

Lansia Terlantar

26 orang

 

6

Pengemis

1 orang

 

7

Gelandangan

 

8

Korban NAPZA

2 orang

 

9

Pekerja Seks Komersial (PSK)

 

10

Eks Narapidana

3 orang

 

11

Penyandang cacad

4 orang

 

12

Keluarga Miskin Sosial

 

 

13

Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis

 

14

Keluarga Rumah Tidak layak Huni

252 KK

 

15

Korban Bencana Alam

 

16

Pemulung

 

17

Masyarakat yang tinggal di daerah bencana

 

  1. Ketenagakerjaan :
No

YANG TERDAFTAR

JUMLAH

KETERANGAN

1

Pencari Kerja

354 orang

 

2

Yang ditempatkan

127 orang

 

3

Lowongan Kerja

 –

 

4

Sisa Pencari Kerja

227qng

 

  1. Pemuda dan Olahraga :
No

KLUB OLAHRAGA YANG TERDAFTAR

JUMLAH

KETERANGAN

1

Klub Sepakbola

13 Grup

 

2

Klub Bola Voli

7 Grup

 

3

Klub Bulutangkis

 

4

Klub Senam Sehat

 

5

Klub Pencaksilat

4 Grup

 

6

Klub Futsal

6 Grup

 

3. Lembaga Pemerintahan dan Kemasyarakatan Desa Nengkelan

  1. Pemerintah Desa

             Kepala Desa                              : Dede Sofyan S, S.Ag

             Sekretaris Desa                          : Mia Maryam

             Jumlah Aparatur Desa               : 13 orang

b. BPD (Badan Permusyawaratan Desa)

Jumlah Anggota BPD Desa Nengkelan 11 orang, termasuk didalamnya ketua, sekretaris dan Bendahara.

c. LPMD (Lembaga Permusyawaratan Desa)

Jumlah Anggota LPMD Desa Nengkelan adalah 7 orang.

  1. RW (Rukun Warga)

Jumlah Rukun Warga di Desa Nengkelan adalah 13 RW

  1. RT (Rukun Tetangga)

Jumlah Rukun Tetangga di Desa Nengkelan adalah 53 RT

  1. TP PKK Desa

Pengurus TPPKK Desa Nengkelan berjumlah 136 orang

  1. Karang Taruna Desa

Karang Taruna Desa Nengkelan beranggotakan 25 orang.

  1. 1.             KEGIATAN EKONOMI MASYARAKAT

Kegiatan Ekonomi Masyarakat Desa Nengkelan  beraneka ragam, terlihat seperti yang tampak pada tabel berikut ini :

No

Jenis Kegiatan Ekonomi Masyarakat

Jumlah

Tahun 2010

Tahun 2011

1.

Kelompok Simpan Pinjam

17 Klp

20 Klp

2.

Pengerajin Golok

3 orang

5 orang

3.

Pengrajin Tralis

2 orang

2 orang

4.

Pengrajin Makanan Olahan

48 orang

52 orang

5.

Pengrajin Konveksi Maklun

39 orang

52 orang

6.

Pengrajin Anyaman Bambu

8 orang

10 orang

7.

Pengrajin Tas Kulit

1 orang

1 orang

8.

Rias Pengantin

1 orang

1 orang

  1. 2.        KELOMPOK KESENIAN

Kesenian di Desa Nengkelan terbilang beragam karena memiliki beberapa kelompok kesenian daerah maupun modern untuk lebih rincinya terdapat pada tabel di bawah ini.

No

Jenis Kelompok Kesenian

Jumlah

Tahun 2010

Tahun 2011

1

Calung

4 klp

6 klp

2

Pencak Silat

5 Klp

5 Klp

3

Dangdut

1 klp

1 klp

4

Rebana

4 klp

4 klp

5

Calung Dangdut

1 klp

1 klp

6

Bangkong Reang

1 klp

1 klp

7

Pop Sunda

1 klp

1 klp

8

Marawis/ Nasyid

1 klp

1 klp

2. SEJARAH DESA

  1. 1.        Asal-Usul Desa Nengkelan
    1. a.    Terbentuknya Babakan

Pada abad ke 17 terdapat tiga orang tokoh agama islam dari Sukapura Tasikmalaya berkelana untuk menyebarkan agama islam di tatar sunda, ketiga tokoh tersebut adalah:

–     Eyang Sembah Malingping Rawabogo yang bernama aslinya Surapraja

–     Eyang Sembah Kadu Agung Pasirjambu yang bernama aslinya Natapraja Japu

–     Eyang Sembah Pandai Nenggeng Tenjolaya yang bernama aslinya Dalem Ranggadipati

Sekitar Tahun 1610 pada suatu tempat di hutan belantara terjadi suatu kesepakatan untuk membuka hutan tersebut menjadi Babakan. Alkisah tempat tersebut terletak antara perbatasan Desa Lebakmuncang dan Rawabogo yang disebut Pasirkaramat di daerah Babakan Raedin.

  1. b.   Hubungan dengan  Sejarah Perkembangan Agama Islam dan Sejarah Indonesia

Bertepatan pada abad ke 17, terjadi peristiwa penting di Kerajaan Mataram dimana anak Raja Mataram yang bernama Abdul Manap pulang dijemput dari Pesantren di Surabaya pada Kiai Ora.

Kedatangan Abdul Manaf anak Raja Mataram disambut dengan meriah, pada saat gong dibunyikan maka pada saat itu pula beliau menghilang karena beliau tidak menyukai bunyi gong, dan selanjutnya masuk hutan belantara.

Suatu saat abdul Manap menuju ke Gunung Sepuh untuk menemui wali yang bernama Samsul Rizal, Karamat (Raedin). Akan tetapi di suatu tempat menuju kedaerah itu, yang sekarang bernama Lebakmuncang terjadi perkelahian antara beliau dengan seekor macan yang sebenarnya adalah seorang pendekar yang menyamar bernama Empong Timpang.

Dari Empong Timpang inilah Abdul manap mendapat petunjuk harus pergi ke sisi Sungai Citarum yang sekarang bernama daerah Mahmud. Di daerah Mahmud, bertemu dengan seorang guru agama islam dari Sukapura bernama Eyang Agung Arif dan berguru disana.

   Setelah tamat belajar disana Eyang Abdul Manap melanjutkan belajar ke Mekah dan sepulang dari sana beliau menikah dengan putri gurunya bernama Imas Permas dan berputra Eyang Agung Abdulah Mahmud.

Eyang Agung Abdulah Mahmud beserta isterinya pindah dan membuka hutan sebagai pemukiman yangh sekarang bernama Babakan Desa Nengkelan.

Perluasan daerah jajahan oleh Belanda, pembukaan babakan baru di Nengkelan bertambah dengan adanya pelarian para pejuang yang anti belanda dari Sukapura dan Mahmud. Lebih-lebih ketika Belanda membentuk Ciwidey sebagai Kewadanaan sesuai dengan politik adu dombanya maka diangkat seorang wedana yang bernama Eyang Ranggasadana yaitu keturunan ketiga dari Syeh Syarif Hidayatulloh. Akan tetapi dengan petunjuk dari wedana tersebut menjadikan Nengkelan sebagai tempat yang aman bagi pelarian pemberontak yang anti Belanda sehingga pembentukan babakan-babakan  baru meningkat.

Pada tahun 1850, terjadi suatu kesepakatan antara babakan yang ada di Desa Nengkelan untuk membentuk suatu kekuatan hukum dalam suatu wadah Desa Nengkelan.

Pemberian nama Desa Nengkelan dapat ditinjau dari beberapa faktor, yaitu:

–       Merupakan hari bersejarah dimana kesepakatan pembentukan pemerintahan desa terjadi di Nengkelan

–       Penyesuaian dengan keadaan daerah dimana banyak batu kecil dan pasir. Nengkelan berarti Kereuwik yang dalam Bahasa Indonesia bermakna daerah pasir dan batu kecil.

–       Pemberian nama oleh seorang yang mempunyai wibawa, dimana pada saat terjadinya peristiwa aneh seorang pendatang baru berteriak-teriaqk di Balai Desa dan ditanyakan asal usulnya dari Nengkelan.

–       Menyambarkan seorang wanita cantik dimana ada seorang pengembara melihatnya dan karena kurang puas, maka ia berkata “Neng ke Lanan” untuk melihat sekali lagi wajah cantik itu dari dekat. Hal ini sesuai dengan keadaan desa yang kecil dan mungil.

–       Nama Nengkelan berasal dari sebuah batu besar tinggi yang berada disebuah bukit yang bernama Kancah Nangkub. Pada batu besar tersebut terdapat batu-batu kecil yang menempel dan orang-orang menyebutnya (bahasa sunda) batu tèh narangkèl parenjul. Pada akhirnya, Desa ini disebut Nengkelan dari kata narangkèl. Pada kenyataannya, kata Nengkelan sesuai dengan keadaan fisik wilayah Desa yang memiliki banyak bukit dan memiliki banyak bebatuan.

Dalam riwayat yang lain menyebutkan bahwa Penduduk pemula Desa Nengkelan ini adalah Mbah Nanggaraksa dari Tasikmalaya yang telah meninggal dan dimakamkan disana yang sekarang disebut dengan daerah Pemakaman Nangga (Pasir Nangka) yang terletak di Kp. Cisaat RW 07 Desa Nengkelan Kecamatan Ciwidey. Didaerah pemakaman itu terletak beberapa Leuwi, diantaranya Leuwi Kendang, Leuwu Bedog dan Leuwi Seueur.

Nama-nama dikampung di Desa Nengkelan pun berasal dari istilah-istilah orang sunda, seperti;

  1. Kampung Ngamprah, berlokasi di RW 08. Ceritanya, dahulu daerah ini disediakan sebagai daerah baru bagi masyarakat yang semakin banyak. Karena disediakan secara khusus maka disubut dengan ngamprah. (Ngamprah=disediakan)
  2. Kampung Pasirpari, dinamakan Pasirpari karena didaerah tersebut terdapat pasir yang berbukit dan banyak mangga dengan spesies golek atau mangga golek, sedangkan mangga golek didaerah ini dinamakan dengan pari. Jadi dinamakan dengan Pasir pari.
  3. Kampung Cisegok, dinamakan demikian karena daerah ini merupakan daerah perbatasan yang sangat terpencil dan menjorok kedalam, jika dilihat di peta Desa Nengkelan sehingga disebut Cisegok yang artinya penutup kampung.
  4. Kampung Bunisari, berlokasi di RW 05. Dinamakan demikian karena daerah ini tertutup serta sulit dijangkau sehingga disebut Bunisari (Buni = tetutup).
  5. Kampung Sikluk, berlokasi di RW 05. Dinamakan demikian karena daerah ini dahulunya merupakan daerah perladangan leuweung (hutan), di daerah ini ladang disebut Sikluk.
  6. Kampung Ciburuy, dinamakan demikian karena dahulu daerah ini ada sebuah kubangan yang didalamnya terdapat Kecebong (Kecebong = buruy).

Begitupun nama Ciwidey, nama ini memiliki silsilah tersendiri. Dahulu didaerah ini terdapat banyak sekali ikan dan untuk mengambilnya, orang biasanya menggunakan suatu wadah khusus yang disebut- wide. Kata wide sendiri mengalami proses asimilasi dengan bahasa sunda menjadi widey sehingga disebut Ciwidey (wide = wadah untuk mengambil ikan, ci = air).

  1. c.    Perkembangan Sejarah Pemerintahan Desa Nengkelan

Perkembangan Desa Nengkelan tercatat beberapa peristiwa penting, antara lain:

–       Pada Tahun 1850, pada saat pemerintahan Kepala Desa Eyang Madali Pusat Pemerintahan Desa Nengkelan meliputi:

1)      Kampung Nengkelan

2)      Kampung Raedin

3)      Kampung Babakan

4)      Kampung Cisaat

5)      Kampung Ngamprah

–       Pada Tahun 1880-1882 Kepala Desa dijabat oleh penduduk Lio, Desa/ Kecamatan Pasirjambu, hal ini dikarenakan masa transisi. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Kampung Nengkelan ke Kampung Babakan.

–       Masa Revolusi fisik pada Tahun 1946, terjadi pengungsian para pejuang dari kota ke hutan pesisir-pesisir hutan. Nengkelan merupakan tempat para pejuang Indonesia bersembunyi dan merupakan jalan menuju ke kota,. Pejuang tersebut antara lain Letjen A.R. Darsono dan Jaksa Agung Sugiarto.

SILSILAH KEPALA DESA NENGKELAN

NO

NAMA

TAHUN

KET

1

Eyang Madali

1850 s/d 1880

Nama sebenarnya adalah Surakerta

2

Halim

1880 s/d 1882

Warga masyarakat Lio

3

Wahiam

1882 s/d 1892

 

4

H.Husen

1892 s/d 1901

 

5

Surakerta

1901 s/d 1920

Adalah putra Eyang Madali dengan nama Sebenarnya adalah Ahiyam Surakerta

6

Natakarama

1920 s/d 1931

 

7

M.Hasim

1931 s/d 1946

 

8

Danawijaya

1946 s/d 1960

 

9

E. Dachlan

1960 s/d 1980

 

10

D. Mulyadi

1981 s/d 1988

 

11

O. Kahya

1988 s/d 1991

Pjs.

12

E.Ichanoedin

1991 s/d 1999

 

13

Mamat Ruhimat

1999 s/d 2006

 

14

Oban Sobana

2006 s/d 2007

Pjs.

15

Dede Sofyan.S,S.Ag

2007 s/d Sekarang

 

 

 

 

3.   TEMPAT-TEMPAT BERSEJARAH DESA

  1. a.        Batu Lawang

Situs ini terletak di Pasir Luhur Kp. Citisuk RT 01 RW 10 Desa Nengkelan berjarak kurang lebih 2 KM dari pusat pemerintahan Desa Nengkelan dan konon batu ini adalah pintu masuk menuju daerah tertentu untuk “meong” (macan) pada saat meong tersebut menjelma menjadi satu sosok layaknya seorang manusia biasa.

  1. b.        Sarakan Prabu Siliwangi

       Situs ini berlokasi di Kp. Ngamprah RT 04 RW 08 Desa Nengkelan Kec. Ciwidey Kab. Bandung yang berjarak 1 km dari pusat pemerintahan Desa Nengkelan. Situs ini merupakan peninggalan Prabu Siliwangi Terakhir(Prabu Seda)yang bernama Prabu Ragamulya Suryakancana bertahta Tahun 1567-1579 M. Ditempat ini terdapat makam yang dipindahkan dari Pasarean Pakuhaji Makam Raja Pajajaran Desa Cikancang Cianjur ke Pasirpari Desa Nengkelan Ciwidey. Di situs ini pula terdapat perpustakaan yang berisi naskah-naskah kuno yang berhubungan dengan situs ini.

 

 

 

 

 

                                      Situs Makam Prabu Siliwang Terakhir (Prabu Seda)

 

 

 

 

 

 

BAB II

ADAT ISTIADAT DESA

 

  1. 1.    ADAT YANG BERKAITAN DENGAN SIKLUS HIDUP
  2. A.      Mengandung Bayi
    1. Upacara Mengandung Empat Bulan

Masyarakat Desa Nengkelan masih mempertahankan adat istiadat ini. Yaitu apabila seorang perempuan menginjak empat bulan masa kehamilannya, karena pada usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.           

  1. Upacara Mengandung Tujuh Bulan (Tingkeban)

Upacara Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan.

Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam. Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama adalah rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut sampai mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dikandung dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin, seperti keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.

Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.

                                 Upacara Mengandug 7 bulanan (Tingkeban)

  1. Upacara Mengandung Sembilan Bulan

Upacara sembuilan bulan dilaksanakan setelah usia kandungan masuk sembilan bulan. Dalam upacara ini diadakan pengajian dengan maksud agar bayi yang dikandung cepat lahir dengan selamat karena sudah waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai simbul dari upacara ini yaitu supaya mendapat kemudahan waktu melahirkan, lolos. Bubur lolos ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau makanan lainnya.

  1. Upacara Reuneuh Mundingeun

Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan,bahkan ada yang sampai 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut Reuneuh Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting. Upacara ini diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan seperti kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pada pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung beurang sambil membaca doa dibawa ke kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat seperti kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh anak-anak yang memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian oleh indung beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan upacara ini sudah jarang dilaksanakan.

  1. B.       Kelahiran dan Masa Bayi
  2. Adat Memelihara Tembuni

Tembuni/placenta dipandang sebagai saudara bayi karena itu tidak boleh dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara waktu menguburnya atau menghanyutkannya ke sungai. Bersamaan dengan bayi dilahirkan, tembuni (placenta) yang keluar biasanya dirawat dibersihkan dan dimasukan ke dalam pendil dicampuri bumbu-bumbu garam, asam dan gula merah lalu ditutup memakai kain putih yang telah diberi udara melalui bambu kecil (elekan). Pendil diemban dengan kain panjang dan dipayungi, biasanya oleh seorang paraji untuk dikuburkan di halaman rumah atau dekat rumah. Ada juga yang dihanyutkan ke sungai secara adat.

Upacara penguburan tembuni disertai pembacaan doa selamat dan menyampaikan hadiah atau tawasulan kepada Syeh Abdulkadir Jaelani dan ahli kubur. Di dekat kuburan tembuni itu dinyalakan cempor/pelita sampai tali pusat bayi lepas dari perutnya.. Upacara pemeliharaan tembuni dimaksudkan agar bayi itu selamat dan kelak menjadi orang yang berbahagia.

  1. Adat Nenjrag Bumi

Upacara Nenjrag Bumi ialah upacara memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, atau cara lain yaitu bayi dibaringkan di atas pelupuh (lantai dari bambo yang dibelah-belah ), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di dekat bayi. Maksud dan tujuan dari upacara ini ialah agar bayi kelak menjadi anak yang tidak lekas terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.

  1. Adat Puput Puseur

Setelah bayi terlepas dari tali pusatnya, biasanya diadakan selamatan. Tali pusat yang sudah lepas itu oleh indung beurang dimasukkan ke dalam kanjut kundang . Seterusnya pusar bayi ditutup dengan uang logam/benggol yang telah dibungkus kasa atau kapas dan diikatkan pada perut bayi, maksudnya agar pusat bayi tidak dosol, menonjol ke luar. Ada juga pada saat upacara ini dilaksanakan sekaligus dengan pemberian nama bayi. Pada upacara ini dibacakan doa selamat, dan disediakan bubur merah bubur putih. Ada kepercayaan bahwa tali pusat (tali ari-ari) termasuk saudara bayi juga yang harus dipelihara dengan sungguh-sungguh. Adapun saudara bayi yang tiga lagi ialah tembuni, pembungkus, dan kakawah. Tali ari, tembuni, pembungkus, dan kakawah biasa disebut dulur opat kalima pancer, yaitu empat bersaudara dan kelimanya sebagai pusatnya ialah bayi itu. Kesemuanya itu harus dipelihara dengan baik agar bayi itu kelak setelah dewasa dapat hidup rukun dengan saudara-saudaranya (kakak dan adiknya) sehingga tercapailah kebahagiaan.

  1. Adat Ekahan

Sebetulnya kata ekah berasal dari bahasa Arab, dari kata aqiqatun “anak kandung”. Upacara Ekah ialah upacara menebus jiwa anak sebagai pemberian Tuhan, atau ungkapan rasa syukur telah dikaruniai anak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mengharapkan anak itu kelak menjadi orang yang saleh yang dapat menolong kedua orang tuanya nanti di alam akhirat. Pada pelaksanaan upacara ini biasanya diselenggarakan setelah bayi berusia 7 hari, atau 14 hari, dan boleh juga setelah 21 hari.

Perlengkapan yang harus disediakan adalah domba atau kambing untuk disembelih, jika anak laki-laki dombanya harus dua (kecuali bagi yang tidak mampu cukup seekor), dan jika anak perempuan hanya seekor saja. Domba yang akan disembelih untuk upacara Ekah itu harus yang baik, yang memenuhi syarat untuk kurban. Selanjutnya domba itu disembelih oleh ahlinya atau Ajengan dengan pembacaan doa selamat, setelah itu dimasak dan dibagikan kepada handai tolan.

  1. Adat Nurunkeun

Upacara Nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah, maksudnya mengenal lingkungan dan sebagai pemberitahuan kepada tetangga bahwa bayi itu sudah dapat digendong dibawa berjalan-jalan di halaman rumah. Upacara Nurun keun dilaksanakan setelah tujuh hari upacara Puput Puseur. Pada pelaksanaannya biasa diadakan pengajian untuk keselamatan dan sebagai hiburannya diadakan pohon tebu atau pohon pisang yang digantungi aneka makanan, permainan anak-anak yang diletakan di ruang tamu. Untuyk diperebutkan oleh para tamu terutama oleh anak-anak.

                                           Adat Nurunkeun

  1. Adat Cukuran/Marhabaan

Upacara cukuran dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis. Upacara cukuran atau marhabaan juga merupakan ungkapan syukuran atau terima kasih kepada Tuhan YME yang telah mengkaruniakan seorang anak yang telah lahir dengan selamat.

Upacara cukuran dilaksanakan pada saat bayi berumur 40 hari.
Pada pelaksanaannya bayi dibaringkan di tengah-tengah para undangan disertai perlengkapan bokor yang diisi air kembang 7 rupa dan gunting yang digantungi perhiasan emas berupa kalung, cincin atau gelang untuk mencukur rambut bayi. Pada saat itu mulailah para undangan berdo’a dan berjanji atau disebut marhaban atau pupujian, yaitu memuji sifat-sifat nabi Muhammad saw. dan membacakan doa yang mempunyai makna selamat lahir bathin dunia akhirat. Pada saat marhabaan itulah rambut bayi digunting sedikit oleh beberapa orang yang berdoa pada saat itu.

Adat Cukuran/ Marhabaan

 

 

  1. Adat Turun Taneuh

Upacara Turun Taneuh ialah upacara pertama kali bayi menjejakkan kakinya ke tanah, diselenggarakan setelah bayi itu agak besar, setelah dapat merangkak atau melangkah sedikit-sedikit. Upacara ini dimaksudkan agar si anak mengetahui keduniawian dan untuk mengetahui akan menjadi apakah anak itu kelak, apakah akan menjadi petani, pedagang, atau akan menjadi orang yang berpangkat.

Perlengkapan yang disediakan harus lebih lengkap dari upacara Nurunkeun, selain aneka makanan juga disediakan kain panjang untuk menggendong, tikar atau taplak putih, padi segenggam, perhiasan emas (kalung, gelang, cincin), uang yang terdiri dari uang lembaran ratusan, rebuan, dan puluh ribuan. Jalannya upacara, apabila para undangan telah berkumpul diadakan doa selamat, setelah itu bayi digendong dan dibawa ke luar rumah. Di halam rumah telah dipersiapkan aneka makanan, perhiasan dan uang yang disimpan di atas kain putih, selanjutnya kaki si anak diinjakan pada padi/ makanan, emas, dan uang, hal ini dimaksudkan agar si anak kelak pintar mencari nafkah. Kemudian anak itu dilepaskan di atas barang-barang tadi dan dibiarkan merangkak sendiri, para undangan memperhatikan barang apa yang pertama kali dipegangnya. Jika anak itu memegang padi, hal itu menandakan anak itu kelak menjadi petani. Jika yang dipegang itu uang, menandakan anak itu kelak menjadi saudagar/pengusaha. Demikian pula apabila yang dipegangnya.

  1. C.      Upacara Khitanan
    1. Upacara Gusaran

Gusaran adalah meratakan gigi anak perempuan dengan alat khusus. Maksud upacara Gusaran ialah agar gigi anak perempuan itu rata dan terutama agar nampak bertambah cantik. Upacara Gusaran dilaksanakan apabila anak perempuan sudah berusia tujuh tahun. Jalannya upacara, anak perempuan setelah didandani duduk di antara para undangan, selanjutnya membacakan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Kemudian Indung beurang melaksanakan gusaran terhadap anak perempuan itu, setelah selesai lalu dibawa ke tangga rumah untuk disawer (dinasihati melalui syair lagu). Selesai disawer, kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Biasanya dalam upacara Gusaran juga dilaksanakan tindikan, yaitu melubangi daun telinga untuk memasang anting-anting, agar kelihatannya lebih cantik lagi.

 

                                                         Upacara Gusaran

  1. Upacara Sepitan/Sunatan

Upacara sunatan/khitanan dilakukan dengan maksud agar alat vitalnya bersih dari najis . Anak yang telah menjalani upacara sunatan dianggap telah melaksanakan salah satu syarat utama sebagai umat Islam. Upacara Sepitan anak perempuan diselenggarakan pada waktu anak itu masih kecil atau masih bayi, supaya tidak malu. Upacara sunatan diselenggarakan biasanya jika anak laki-laki menginjak usia 3-6 tahun.

Dalam upacara sunatan selain paraji sunat, juga diundang para tetangga, handaitolan dan kerabat. Pada pelaksanaannya pagi-pagi sekali anak yang akan disunat dimandikan atau direndam di kolam sampai menggigil, kemudian dipangku dibawa ke halaman rumah untuk disunat oleh paraji sunat (bengkong), banyak orang yang menyaksikan diantaranya ada yang memegang ayam jantan untuk disembelih, ada yang memegang petasan dan macam-macam tetabuhan sambil menyanyikan marhaba. Bersamaan dengan anak itu disunati, ayam jantan disembelih sebagai bela, petasan disulut, dan tetabuhan dibunyikan. Kemudian anak yang telah disunat dibawa ke dalam rumah untuk diobati oleh paraji sunat. Tidak lama setelah itu para undangan pun berdatangan, baik yang dekat maupun yang jauh. Mereka memberikan uang/ nyecep kepada anak yang disunat itu agar bergembira dan dapat melupakan rasa sakitnya. Pada acara ini adapula yang menyelenggarakan hiburan seperti wayang golek, sisingaan atau aneka tarian.

 

                                                      Upacara Sepitan/ Sunatan

  1. D.      Upacara Adat Perkawinan

Secara kronologis upacara adat perkawinan dapat diurut mulai dari adat sebelum akad nikah, saat akad nikah dan sesudah akad nikah

  1. Upacara sebelum akad nikah

pada upacara ini biasanya dilaksanakan adat:

a)    Neundeun Omong : yaitu kunjungan orang tua jejaka kepada orang tua si gadis untuk bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak anak gadisnya akan dilamar.

b)   Ngalamar : nanyaan atau nyeureuhan yaitu kunjungan orang tua jejaka untuk meminang/melamar si gadis, dalam kunjungan tersebut dibahas pula mengenai rencana waktu penikahannya. Sebagai acara penutup dalam ngalamar ini si pelamar memberikan uang sekedarnya kepada orang tua si gadis sebagai panyangcang atau pengikat, kadang-kadang dilengkapi pula dengan sirih pinang selengkapnya disertai kue-kue & buah-buahan. Mulai saat itu si gadis telah terikat dan disebut orang bertunangan.

c)    Seserahan: yaitu menyerahkan si jejaka calon pengantin pria kepada calon mertuanya untuk dikawinkan kepada si gadis. Pada acara ini biasa dihadiri oleh para kerabat terdekat, di samping menyerahkan calon pengantin pria juga barang-barang berupa uang, pakaian, perhiasan, kosmetik dan perlengkapan wanita, dalam hal ini tergantung pula pada kemampuan pihak calon pengantin pria. Upacara ini dilakukan 1 atau 2 hari sebelum hari perkawinan atau ada pula yang melaksanakan pada hari perkawinan sebelum akad nikah dimulai.

 

                                                                       Seserahan

d)   Ngeuyeuk Seureuh: artinya mengerjakan dan mengatur sirih serta mengait-ngaitkannya. Upacara ini dilakukan sehari sebelum hari perkawinan, yang menghadiri upacara ini adalah kedua calon pengantin, orang tua calon pengantin dan para undangan yang telah dewasa. Upacara dipimpin oleh seorang pengetua, benda perlengkapan untuk upacara ini seperti sirih beranting, setandan buah pinang, mayang pinang, tembakau, kasang jinem/kain, elekan, dll semuanya mengandung makna/perlambang dalam kehidupan berumah tangga. Upacara ngeuyeuk seureuh dimaksudkan untuk menasihati kedua calon mempelai tentang pandangan hidup dan cara menjalankan kehidupan berumah tangga berdasarkan etika dan agama, agar bahagia dan selamat. Upacara pokok dalam adat perkawinan adalah ijab kabul atau akad nikah.

  1. . Upacara Adat Akad Nikah

Upacara perkawinan dapat dilaksanakan apabila telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam agama Islam dan adat. Ketentuan tersebut adalah: adanya keinginan dari kedua calon mempelai tanpa paksaan, harus ada wali nikah yaitu ayah calon mempelai perempuan atau wakilnya yang sah, ada ijab kabul, ada saksi dan ada mas kawin. Yang memimpin pelaksanaan akad nikah adalah seorang Penghulu atau Naib, yaitu pejabat Kantor Urusan Agama.

Upacara akad nikah biasa dilaksanakan di Mesjid atau di rumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya adalah kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang tua kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para undangan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai pria disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai pria membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita.

 

                                                                ProsesiAkad Nikah

  1. Upacara Adat sesudah akad nikah

a)    Munjungan/sungkeman : yaitu kedua mempelai sungkem kepada kedua orang tua mempelai untuk memohon do’a restu.

 

 

Munjungan/ Sungkeman

b)   Upacara Sawer (Nyawer): perlengkapan yang diperlukan adalah sebuah bokor yang berisi beras kuning, uang kecil (receh) /logam, bunga, dua buah tektek (lipatan sirih yang berisi ramuan untuk menyirih), dan permen. Pada pelaksanaannya kedua mempelai duduk di halaman rumah di bawah cucuran atap (panyaweran), upacara dipimpin oleh juru sawer. Juru sawer menaburkan isi bokor tadi kepada kedua pengantin dan para undangan sebagai selingan dari syair yang dinyanyikan olehnya sendiri. Adapun makna dari upacara nyawer tersurat dalam syair yang ditembangkan juru sawer, intinya adalah memberikan nasehat kepada kedua mempelai agar saling mengasihani, dan mendo’akan agar kedua mempelai mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya, hidup rukun sampai diakhir hayatnya.

 

 

                                                           Upacara Sawer (Nyawer):

c)    Upacara Nincak Endog : atau upacara injak telur yaitu setelah upacara nyawer kedua mempelai mendekati tangga rumah , di sana telah tersedia perlengkapan seperti sebuah ajug/lilin, seikat harupat (sagar enau) berisikan 7 batang, sebuah tunjangan atau barera (alat tenun tradisional) yang diikat kain tenun poleng, sebuah elekan, sebutir telur ayam mentah, sebuah kendi berisi air, dan batu pipisan, semua perlengkapan ini mempunyai perlambang. Dalam pelaksanaannya lilin dinyalakan, mempelai wanita membakar ujung harupat selanjutnya dibuang, lalu mempelai pria menginjak telur, setelah itu kakinya ditaruh di atas batu pipisan untuk dibasuh air kendi oleh mempelai wanita dan kendinya langsung dihempaskan ke tanah hingga hancur. Makna dari upacara ini adalah menggambarkan pengabdian seorang istri kepada suaminya.

 

                                                              Upacara Nincak Endog

d)   Upacara Buka Pintu : upacara ini dilaksanakan setelah upacara nincak endog, mempelai wanita masuk ke dalam rumah sedangkan mempelai pria menunggu di luar, hal ini menunjukan bahwa mempelai wanita belum mau membukakan pintu sebelum mempelai pria kedengaran mengucapkan sahadat. Maksud upacara ini untuk meyakinkan kebenarannya beragama Islam. Setelah membacakan sahadat pintu dibuka dan mempelai pria dipersilakan masuk. Tanya jawab antara keduanya dilakukan dengan nyanyian (tembang) yang dilakukan oleh juru tembang.

e)    Upacara Huap Lingkung : Kedua mempelai duduk bersanding, yang wanita di sebelah kiri pria, di depan mempelai telah tersedia adep-adep yaitu nasi kuning dan bakakak ayam (panggang ayam yang bagian dadanya dibelah dua). Mula-mula bakakak ayam dipegang kedua mempelai lalu saling tarik menarik hingga menjadi dua. Siapa yang mendapatkan bagian terbesar dialah yang akan memperoleh rejeki besar diantara keduanya. Setelah itu kedua mempelai huap lingkung , saling menyuapi. Upacara ini dimaksudkan agar kedua mempelai harus saling memberi tanpa batas, dengan tulusdanikhlassepenuhhati.

Sehabis upacara huap lingkung kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan diapit oleh kedua orang tua mempelai untuk menerima ucapan selamat dari para undangan (acara resepsi).

 

                                                                Upacara Huap Lingkung   

  1. E.       Upacara Adat Kematian

Pada garis besarnya rangkaian upacara adat kematian dapat digambarkan sebagai berikut: memandikan mayat, mengkafani mayat, menyolatkan mayat, menguburkan mayat, menyusur tanah dan tahlilan, yaitu pembacaan do’a dan zikir kepada Allah swt. agar arwah orang yang baru meninggal dunia itu diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya, juga mendo’kan agar keluarga yang ditinggalkannya tetap tabah dan beriman dalam menghadapi cobaan. Tahlilan dilaksanakan di rumahnya, biasanya sore/malam hari pada hari pertama wafatnya (poena), tiluna (tiga harinya), tujuhna (tujuh harinya), matangpuluh (empat puluh harinya), natus (seratus hari), mendak taun (satu tahunnya), dan newu (seribu harinya).

  1. 2.    ADAT TENTANG SOPAN SANTUN

Pembahasan mengenai tatakrama (etiket, sopan-santun) cukup luas jangkauannya. Bagaimana tidak, sebab tatakrama melingkupi seluruh perilaku kehidupan manusia. Dapat dikaitkan dengan: jenis kelamin (pria-wanita), umur (tua-muda), waktu (masa lalu-kini), situasi (gembira-sedih), kesempatan (resmi-tidak resmi) dan sebagainya. Keseluruhan pengelompokan inipun dapat pula dikaji berdasarkan tatakrama religi (agama), falsafah (etika) dan sosio (masyarakat).

Setiap pembahasan tatakrama, sebaiknya diperjelas landasan pijakannya, apakah religi, fisafat ataukah sosio, meskipun pada kenyataannya ketiga unsur tersebut tetap merupakan kesatuan. Tetapi hal ini perlu untuk menyamakan sudut pandang penulis dan pemerhati. Dalam wacana ini saya menitik-beratkan pembahasan tatakrama berdasarkan sosio-kultural, khususnya Sunda dalam situasi masyarakat yang berubah dan majemuk

Masyarakat selalu berubah, sehingga norma atau ukuran dari perilaku kehidupan masyarakat pun ikut pula berubah. Perubahan perilaku masyarakat ini adalah alami, maka akan terdapat pergeseran yang menuju arah positif tetapi tidak sedikit yang membawa ke arah perkembangan negatif bagi peradaban bangsanya.

Demikian pula homoginitas suatu etnis mengalami perubahan yang menjadi sedemikian cairnya, sehingga lama-kelamaan berubah menjadi masyarakat heteroginitas (majemuk). Persinggungan budaya dari bermacam etnis ini menimbulkan kompleksitas permasalahan budaya. Termasuk pula norma-norma tatakrama Sunda apa saja/mana saja yang dapat/perlu tetap dipertahankan keberadaannya dalam budaya globalisasi dan majemuk ini. Sehubungan dengan ini, tatakrama dapat dikaji pula dengan hubungan peran dan manfaat tatakrama Sunda dalam kaitannya dengan pergaulan regional Tatar Sunda (khususnya Parahiangan), nasional dan internasional.

Tatakrama Sunda dan Peranannya dalam Kualitas Bangsa

Sinonim kata “tatakrama”, yaitu sopan-santun. Jadi tatakrama Sunda berarti “sopan-santun menurut norma orang Sunda”. Bila dipertajam lagi, norma orang Sunda yang mana? Saya cenderung mengacu kepada norma “urang Sunda nu ilahar” (biasa,umum). “Ilahar” dalam arti “kelompok besar yang cenderung seragam dalam perilaku sopan-santunnya”, ini mengacu kepada sosio-kultural secara geografis (Tatar Sunda, Parahyangan).

Tatakrama atau sopan-santun adalah hasil proses pengadaptasian seseorang dalam bersosialisasi. Jadi tatakrama dapat dipelajari. Oleh karena itu tatakrama seseorang sangat erat kaitannya dengan kebiasaan “sopan-santun” yang diadaptasi dari lingkungan keluarga, lingkungan hidupnya dan tidak terlepas dari kemampuan seseorang dalam menyerap nilai-nilai sopan-santun yang ada di lingkungan sekitarnya.

Seseorang yang kurang peka dalam bermasyarakat, terlebih lagi bila menutup diri, maka dia akan kehilangan kesempatan untuk mampu bertatakrama sesuai dengan masyarakatnya, ia akan tercabut dari akar budayanya dan pada gilirannya akan merasa asing di tengah masyarakat budayanya sendiri. Alangkah sepi dan sunyinya manusia yang menyendiri di tengah keramaian manusia lainnya.

Peran tatakrama bagi masyarakat sesuatu etnis seperti yang dikatakan oleh orang bijak bahwa: Kehormatan suatu masyarakat di antaranya tergantung pada tatakrama yang berlaku dalam masyarakat itu. Seandainya masyarakat Sunda menghadapi kekacauan dalam tatakramanya atau bahkan kehilangan tatakrama sama sekali, niscaya akan merosotlah kehormatan masyarakat tsb dalam pandangan bangsa lain. Jadi betapa pentingnya “peran” tatakrama bagi terbentuknya harga diri manusia dan masyarakatnya. Dengan demikian keterpeliharanya tatakrama (a.l Sunda) pada akhirnya menjadi daya dorong dalam mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Sumber Tatakrama

Tatakrama adalah produk dari pembelajaran manusia dalama bermasyarakat, a.l bersumber dari:

  • Agama. Agama merupakan sumber pengetahuan tatakrama yang sangat berperan dalam membentuk karakter manusia.
  • Nurani. Nurani adalah fakultas dalam diri manusia yang selalu mempertahankan kebenaran, tidak pernah berbohong. Dengan aspeknya yaitu aspek index, yudex dan vindex.
  • Keluarga. Tentang peran keluarga kita telah faham. Keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah, berkemungkinan besar untuk membentuk anggota keluarganya bertatakrama baik.
  • Lingkungan. Lingkungan alam maupun lingkungan pergaulan akan membentuk pola tatakrama tertentu bagi seseorang.
  • Adat istiadat. Setiap bangsa/etnis mempunyai adat istiadat masing-masing, akan mempunyai tatakrama tertentu hasil kesepakatan masyarakatnya. Maka bila ada orang yang tidak menyesuaikan diri dengan norma tatakrama masyarakatnya akan dikatakan “mahiwal”.
  • Kebiasaan. Kebiasan yang dijalankan terus menerus, pada akhirnya akan menjadi sumber tatakrama.
  • Peradaban Bangsa (civilasasi). Peradaban bangsa yang telah maju akan menjadi sumber acuan peradaban bangsa yang masih dalam taraf berkembang.

       Ada beberapa contoh yang biasa di terapkan dimasyarakat Desa Nengkelan, diantaranya:

  1. Jika lewat di depan rumah seseorang, dan kebetulan orangnya ada di beranda rumah atau kelihatan, seseorang yang lewat harus mengucapkan “punten/permisi”.
  2. Jika lewat di depan orang yang jauh lebih tua dan jaraknya dekat, misalnya dalam suatu pertemuan atau riungan, maka diharuskan untuk membungkukan badan dengan tangan kanan lebih rendah daripada tangan kiri seolah-olah tangan kanan sedang memungut sesuatu sambil mengucapkan “punten/permisi”.
  3. Ketika makan, tidak boleh ada suara dari mulut ketika mengunyah.
  4. Tidak kentut di depan orang yang lebih tua atau di depan orang, apalagi seorang gadis/wanita, sangat dipantang.
  5. Memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan:

a)      Untuk lelaki yang kira-kira dipandang masih pemuda, dengan kata “Aa/Akang [Abang]” untuk wanita “Teteh/Ceceu [Kakak]”

b)      Untuk lelaki yang sudah tua, bisa dengan kata-kata “Mang [Paman] dan Bapak, untuk wanita “Bi atau Ibu”

  1. Tidak boleh memanggil yang lebih tua dengan namanya!!
  2. Jika menunjukan sesuatu, diusahakan tidak mengacungkan telunjuk tetapi memakai jempol dengan jari-jari lain dirangkapkan dan ketika menunjukkan arah badan harus agak membungkuk
  3. Ketika duduk duduk dengan orang tua dalam suatu jamuan atau riungan, ketika duduk di lantai, lelaki harus bersila sedangkan wanita harus ‘emok/bersimpuh’
  4. Ketika dalam riungan dan disuguhkan makanan, orang paling tua lah yang pertama mendapat kesempatan untuk mengambil makanan, jadi dipantang seorang muda melakukannya duluan
  5. Ketika berbicara dengan orang tua, kita harus menggunakan bahasa halus
  6. Tidak boleh sembarangan meludah
  7. Kalau berbicara dengan orang tua, tidak boleh memandang mata dan usahakan untuk mendengarkan dulu.
  8. Tidak boleh berkacak pinggang di depan orang yang lebih tua
  9. Jika orang tua sedang berkumpul apalagi kedatangan tamu, anak kecil tidak boleh nimbrung
  10. Tidak boleh mendorong kepala seseorang
  11. Diusahakan menyapa orang yang lewat depan rumah kita (orang-orang yang sopan santunnya tinggi selain menyapa juga menawarkan untuk singgah dan minuman)
  12. Jika kita membicarakan sesuatu yang halnya bersifat resmi harus “malapah gedang” artinya tidak langsung ke inti obrolan.. tapi mesti ada basa-basi terlebih dahulu
  13. Untuk tatakrama pemanggilan dalam keluarga, semua mengikuti hirarki, tidak mengikuti siapa yang lebih tua. Contohnya : Jika Abi dan Abu bersaudara, dimana Abi adalah kakaknya Abu maka semua keturunanya pun akan mengikuti hirarki ini. Jadi ketika anak Abu lebih tua dari Anak Abi, maka yang menghormat adalah anak Abi dengan memanggil “Aa/teteh” bukan sebaliknya.
  14. Adalah tidak sopan, ketika kita lagi makan di rumah dan kebetulan ada seseorang yang lewat dan melihat kita makan sedangkan kita tidak menawarkan makanan tersebut.
  15. Tamu harus diberi suguhan minimal air [namun di kampung saya orang tua zaman dulu sadis pada anaknya demi menjamu tamu [lebai], hingga jika ada kue, penganan atau buah-buahan maka yang ada dipikiran mereka “buat tamu”, hingga jika kita ngambil tanpa persetujuan orang tua walaupun makanan itu terpampang jelas di lemari kita akan dimarahi.
  16. 3.    ADAT BERKAITAN DENGAN SUMBERDAYA ALAM

Upacara adat yang masih di lestarikan yaitu upacara adat rengkong yaitu upacara mapag panen padi yang biasa di lakukan menjelang panen. Upacara ini di sandingkan dengan gondang, yaitu seni musik dengan menggunakan lesung (lisung) dan di pukul dengan menggunakan alu (halu) di iringi dengan kawih sunda dan tarian. Upacara ini masih dilestarikan di RW 10 Kp. Kinangki Desa Nengkelan.

  1. 4.    TABU ATAU PANTANGAN

Bagi masyarakat yang lahir dan di besarkan di Tatar Sunda, mengkin masih terngiang dan masih ingat sebuah kata yang berbunyi pamali. Kata pamali ini lazim sebuah sebutan untuk mengatakan segala sesuatu yang tabu, dan sekali-kali kita menanyakan mengapa bisa disebut pamali

Diwaktu masa anak-anak kita kalau duduk dipintu keluar akan mendengar larangan orang tua seperti berikut: “ulah diuk dilawang panto, pamali!”! (jangan duduk di pintu keluar, tabu).

            Bahkan bagi anak-anak gadis remaja, ditabupak makan mentimun, nanas dan pisang ambon. Bukti kata pamali itu memeng masih ada, sebagai perempuan yang yang telah makan mentimun atau nanas ternyata ada epek samping jika makan berlebihan, yaitu menderita keputihan.

Selain itu, masyarakat tatar sunda mengenal dengan adanya larangan untuk tidak bermain selepas magrig, yang akan berakibat dirawu kelong (dibawa terbang kelelawar) atau disumputken jurig (disembunyikan setan).

Hal-hal tersebut diatas bisa dikatakan pantangan, yang seolah-olah bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang memang benar adanya berkaitan dengan kata pamali . dan hal-hal tersebut masih berlaku di masyarakat Desa Nengkelan.

  1. 5.    UPACARA/ RITUAL
  2. Upacara Ngirab ReboWekasan

Upacara ini ditandai dengan berziarahnya masyarakat setempat ke makam Sunan Kalijaga, yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, karena waktu tersebut dianggap hari yang paling baik untuk menghilangkan bencana dan kemalangan dalam hidup manusia. Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan berbagai pertandingan seperti lomba mendayung dan sebagainya. Upacara ini biasa dilaksanakan di sungai Drajat, Kota Cirebon.

  1. Upacara Maulud Nabi Muhammad SAW.

Upacara ini adalah merupakan upacara keagamaan. Maulud Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW dimana sejumlah masyarakat berkumpul berdatangan dari berbagai daerah di luar Kota Cirebon untuk mengikuti upacara tersebut. Setelah selesai upacara dilanjutkan dengan ziarah ke makam para wali dan kramat-kramat lainnya, baik dari masyarakat Cirebon maupun masyarakat dari luar daerah. Di tiap daerah pun diadakan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, dengan cara pengajian dan pembacaan solawat kepada Nabi Muhammad Saw disertai ceramah keagamaan.

  1. Upacara Peringatan Isro Mi’raj

Di setiap daerah di Jawa Barat khususnya bagi umat Islam, setiap tanggal 27 bulan Rajab biasa dilakukan peringatan Isro Mi’raj. Isro yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari masjidil Haram Mekah ke mesjidil Aqso. Sedangkan Mi’raj adalahperistiwa naiknya Nabi Muhammad ke langit ke tujuh dan diberikannya wahyu untuk melaksanakan sholat 5 waktu sehari. Pada pelaksanaan peringatan Isra Miraj biasa diadakan pengajian, pembacaan solawat dan ceramah keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar manusia dalam menjalankan hidupnya harudisertai dengan peningkatan ibadah terhadap Allah SWT. Seusai kegiatan tersebut biasa diadakan makan nasi tumpeng bersama.

  1. Upacara Lebaran 1 Syawal

Setelah puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, pada tanggal 1 Syawal merupakan hari raya Idul fitri atau hari lebaran, yaitu hari dimana umat Islam merayakan hari yang penuh kesucian dan kebebasan, bebas dari puasa dan bebas dari dosa. Pagi hari setelah solat subuh, umat Islam yang merayakan Lebaran solat berjamaah di lapangan atau di mesjid, mendengarkan ceramah dan berdo’a. Setelah itu bersalaman saling memaafkan. Begitu pula sesampainya di rumah diadakan upacara sungkeman, orang tua duduk berdampingan, anak-anaknya sungkem bersalaman saling memaafkan antara anggota keluarga. Setelah itu makan bersama yaitu makan khas Lebaran “ketupat” beserta lauk-pauk dan makanan lainnya khas lebaran. Selanjutnya mereka dengan baju barunya pergi ke tetangga dan kerabat untuk bersilaturahmi saling memaafkan sambil membawa makanan atau hadiah lainnya. Ada juga yang berziarah terlebih dahulu ke makam keluarga untuk mendo’akan para arwah. Masyarakat Sunda umumnya melaksanakan lebaran ini dengan penuh hikmah dan semangat

  1. 6.    PERMAINAN TRADISIONAL

Permainan rakyat tersebar di daerah Jawa Barat, dan merupakan bagian dari folklore. Kecenderungan manusia untuk menikmati suatu permainan yang mendidik dan menggembirakan, sebenarnya bersifat universal, namun tiap daerah atau tempat memiliki cara yang berlainan. Masyarakat Jawa Barat sejak jaman dulu telah memiliki banyak permainan yang dilakukan terutama oleh anak-anak pada waktu senggang. Bila permainan rakyat yang ada di Jawa Barat kita kaji ternyata bersifat edukatif; mengandung unsur pendidikan jasmani, kecermatan, kelincahan, daya pikir, apresiasi artistik (unsur seni), kesegaran psikologis dan sebagainya. Keterampilan berprestasi yang bersifat hiburan dalam wujud permainan rakyat kita jumpai di mana-mana. Beberapa macam permainan rakyat daerah Jawa Barat diantaranya adalah :

  1. Bebentengan

Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan. Permainan ini memerlukan tempat yang cukup luas dengan ukuran kira-kira 10 X 5 meter2 sehingga dapat bermain leluasa, alat yang diperlukan beberapa buah bata/ batu sebagai bentengnya. Ditinjau dari segi edukatif permainan ini sangat baik bagi perkembangan bakat dan membantu pertumbuhan jasmani anak-anak karena secara tidak langsung melatih kelincahan dan kecepatan lari, juga melatih penglihatan di samping mempelajari cara mengecoh lawan.

 

                                             Bebentengan

  1. Congkak

Permainan ini umumnya digemari kaum wanita tua, muda dan anak-anak, dilakukan dikala waktu senggang. Alat yang diperlukan sebuah congkak terbuat dari kayu/plastik beserta 98 butir biji-bijian atau kewuk/lokan. Permainan dilakukan oleh 2 orang dapat dilakukan di lantai atau di atas meja. Permainan congkak melatih keterampilan menghitung dan melatih tanggung jawab pada diri sendiri dan rasa setia kawan.

 

                                             Congkak  

  1. Kobak

Kobak atau logak yaitu lubang kecil yang dangkal. Perlengkapan alat yang digunakan dalam permainan ini beberapa gundu dan lobang kecil yang dangkal sebagai sasaran untuk mencapai kemenangan. Dilakukan oleh anak-anak atau remaja laki-laki antara 2 sampai 5 orang dan bermain perorangan. Tempat bermain di ruang terbuka yang cukup luas. Permainan ini suka memakai taruhan uang atau karet gelang. Permainan ini di samping sebagai hiburan juga melatih kecermatan dan ketangkasan melempar. Permainan ini terdapat Kabupaten Bandung, Garut, Cianjur, Bogor dan sekitarnya.

  1. Ngadu Karbit

Permainan ini untuk orang dewasa yang menggunakan meriam yang terbuat dari batang enau/pinang, gagang dari bilah bambu dan kaleng bekas untuk tempat karbit yang diairi. Banyaknya pemain tidak tentu tergantung dari banyaknya alat yang digunakan. Mengandung unsur pertandingan antar kelompok, dan dilakukan di tempat terbuka yang cukup luas. Biasanya permainan ini dilakukan pada menjelang akhir bulan puasa sebagai hiburan,

                                                                  Ngadu Karbit

 

 

  1. Ngadu Muncang

Merupakan permainan anak-anak maupun dewasa laki-laki, merupakan pertandingan antara 2 orang pemilik kemiri, dapat dilakukan di tempat terbuka atau tertutup. Alat yang digunakan terdiri dari kemiri yang dipertandingkan, penggepit, bantalan yang dibuat dari kayu keras, penampang bantalan, dan gegendir/pemukul dari kayu yang keras. Terdapat unsur taruhan uang di kalangan pemain dewasa, sedangkan anak-anak taruhannya berupa kemiri atau kelereng. Disamping merupakan hiburan juga merupakan latihan memilih kemiri yang besar daya tahannya . Masih dilakukan di beberapa daerah di Jawa Barat.

                                               Ngadu Muncang

  1. Oray-orayan

Permainan untuk anak-anak dengan jumlah anak sekitar 20 orang, dilakukan di tempat terbuka yang luas. Menggunakan dialog tanya jawab di antara pemain dan nyanyian-nyanyian, tidak ada unsur pertandingan, hanya sebagai hiburan pengisi waktu. Permainan ini melatih kecekatan, kesiagaan dan keterampilan berkelompok. Masih dilakukan dibeberapa daerah di Jawa Barat.

                                             Oray Orayan

  1. Palpalan (adu kelereng)

Permainan anak-anak ini dilakukan oleh 2 sampai 7 orang bermain sebagai perorangan, dilakukan di tempat terbuka dan cukup luas, ada unsur taruhan.
Alat yang digunakan berupa kelereng serta batasan-batasan tertentu pada gelanggang. Permainan ini di samping sebagai hiburan di waktu senggang juga melatih keterampilan membidik dan kejujuran.

 

                                      Adu Kelereng

  1. Kul-kul Bakulan

Permainan ini biasa dilakukan anak-anak usia 5 sampai 12 tahun, tidak memerlukan tempat yang khusus, cukup di serambi atau di halaman yang teduh. Alat Bantu permainan hanya sebutir batu kecil atau kelereng. Permainan ini diikuti oleh 5 sampai 7 orang, salah satu dari mereka menjadi jojodog dengan posisi duduk membungkuk sebagai tempat untuk menaruh tangan para pemain yang menang undian. Sambil bernyanyi mereka mengelilingkan batu pada tangan mereka yang pada akhirnya yang menjadi jojodog harus menerka di tangan siapa batu kecil itu berada. Permainan ini dapat melatih ketajaman rasa, melatih membaca pikiran orang lain, dan melatih mental suapaya kuat ketika menerima ejekan dari orang lain.

 

                                                                     Pacublak-cublak Uang

  1. Sur-ser

Permainan anak-anak yang dilakukan di dalam ruangan dan para pemain tidak berpindah tempat karena tidak mengandung unsur pertandingan. Jumlah pelaku permainan antara 4 sampai 10 orang, mereka melakukan gerakan–gerakan bersama sambil bernyanyi dan gelak tawa mereka menghangatkan suasana. Permainan ini melatih kelenturan badan serta ketepatan irama bersama.

  1. Encrak (bekelen)

Dilakukan oleh anak perempuan berumur 6 sampai 12 tahun, alat yang dipakai dalam permainan ini adalah batu atau kwuk (cangkang kerang) sedangkan sebagai seroknya menggunakan tangan. Banyaknya pemain paling sedikit 2 orang, paling banyak 5 orang dalam posisi berhadap-hadapan sambil duduk.Tempat untuk bermain biasanya pada emper-emper rumah yang bertegel atau serambi yang berlantai ubin atau papan. Permainan ini memupuk rasa sportivitas, mendidik keterampilan dan ketelitian. Mengandung unsure bertanding untuk menang, permainan ini terdapat di Priangan dan sekitarnya.

  1. Susumputan

Permainan ini dilakukan anak-anak berusia 5 sampai 12 tahun, diikuti oleh 4 sampai 10 orang. Salah satu di antara mereka menjadi kucing dan yang lainnya bersembunyi, yang menjadi kucing harus mencari temannya yang bersembunyi.
Permainan ini dapat melatih pancaindera, melatih keterampilan dan kecepatan bergerak, melatih rasa setia kawan dan saling tolong- menolong. Permainan ini masih digemari sampai sekarang.

 

                                                                     Susumputan

  1. Ucing Juru

Permainan ini digemari anak-anak usia 5 sampai 10 tahun, pelaku dari permainan ini hanya 5 orang. Tempat yang diperlukan agak luas dan rata dengan ukuran 2 x 2 m2 atau 3 x 3 m2 yang membentuk bujur sangkar. Permainan ini merupakan hiburan segar sambil berolah raga. Pelaku permainan ini tidak merupakan kelompok lawan dan kawan, tetapi merupakan permainan kecekatan perorangan. Untuk menentukan siapa penghuni sudut dan siapa yang menjadi kucing, mereka mengadakan undian terlebih dahulu melalui hompimpah atau suten, yang kalah undian menjadi kucingnya dan menempati tengah-tengah arena, yang menang menempati tiap sudut A-B-C-D. Yang menjadi kucing berusaha menempati posisi sudut-sudut itu. Permainan ini melatih anak-anak bereaksi dengan cepat, melatih sifat sportif serta jujur.

 

                                                                       Ucing Juru

  1. Ucing Kalangkang

Pelaku permainan 5 sampai 10 anak, mereka mengadakan undian yang kalah menjadi kucing. Dilakukan pada pagi hari atau malam hari waktu terang bulan, dimana orang berdiri jelas bayangannya. Gelanggang permainan di tempat terbuka. Jalannya permainan yang menjadi kucing harus menginjak bayangan lawannya dan bila terinjak lawannya berbalik menjadi kucing. Permainan ini melatih kecekatan bergerak.

                                                      Ucing Kalangkang

  1. Ucing Peungpeun

Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan, dilakukan di tempat terbuka, jumlah peserta dapat sampai 10 orang anak. Merupakan permainan perorangan, dimana yang menjadi kucing matanya ditutup dan berada di tengah-tengah lingkaran mangsanya. Sambil bernyanyi mereka mengelilingi kucingnya, dan apabila selesai bernyanyi yang menjadi kucing harus menerka mangsanya, dan apabila terkaannya benar ia berbalik jadi mangsanya, begitu seterusnya.Permainan ini melatih untuk ketepatan menerka dan kejujuran, permainan ini merupakan hiburan dan tersebar di Jawa Barat.

 

                                                         Ucing Peungpeun

  1. Ucing Kuriling

Permainan ini dilakukan anak-anak dan tidak terbatas banyaknya. Dilakukan di tempat yang agak luas dengan membuat garis lingkaran yang garis tengahnya kira-kira 4 sampai 5 m. Yang menjadi kucing berada di atas garis lingkaran sedangkan yang menjadi tikusnya/mangsanya di dalam lingkaran. Apabila mangsanya kena tepukan kucing maka ia akan berbalik menjadi kucing. Permainan ini melatih kecekatan dan sportifitas, di samping merupakan hiburan yang mengasyikkan.

                                               Ucing Kuriling

  1. Sondah

Dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan berumur 6 sampai 12 tahun, Dilakukan di tempat yang agak luas dengan membuat garis berbentuk kotak yang saling berhubungan. Alat yang dipakai dalam permainan ini adalah pecahan genting. Banyaknya pemain paling sedikit 2 orang, paling banyak 5 orang. Permainan ini dimainkan dengan melempar pecahan genting ke dalam garis kotak Permainan ini memupuk rasa sportivitas, mendidik keterampilan dan ketelitian. Mengandung unsur bertanding untuk menang

 

                                                         Sondah

  1. Luncat Tinggi

Dilakukan oleh anak perempuan berumur 6 sampai 15 tahun, Dilakukan di tempat yang agak luas seperti di lapangan atau halaman yang agak luas. Alat yang dipakai dalam permainan ini karet gelang yang diikat satu sama lain. Banyaknya pemain paling sedikit 3 orang, paling banyak 10 orang dan bisa dimainkan secara berkelompok. Permainan ini dimainkan dengan memegang gelang karet yang diikat tadi oleh dua pemain, dan pemain yang lain meloncat melewati karet gelang tersebut Permainan ini memupuk rasa sportivitas, mendidik keterampilan dan ketelitian. Mengandung unsur bertanding untuk menang.

 

                                                  Luncat Tinggi

  1. Jajangkungan

Dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan berumur 10 sampai 15 tahun, remaja dan orang dewasa pun tidak jarang memainkannyaDilakukan di tempat yang agak luas seperti di lapangan atau halaman yang agak luas. Alat yang dipakai dalam permainan ini dua bilah bambu yang pada bagian bawahnya sekitar 20 cm dari ujung, di pasang bambu yang lebih besar untuk pijakan. Permainan ini cukup sulit dimainkan karena memerlukan keseimbangan badan agar tidak jatuh ke tanah. Permainan ini juga sering diperlombakan.

 

 

                                                  Jajangkungan

  1. Sapintrong

Dikalangan anak-anak perempuan permainan sapintrong merupakan permainan yang sangat digemari. Selain dibutuhkan strategi maupun kekuatan fisik, para pemain pun dituntut untuk berlaku jujur dan sportif. Permainan diwali dengan menentukan dua orang yang harus menjaga kedua ujung tali atau karet. Setelah ditentukan petugas yang memegang karet dan urutan pemain, permaianan pun dilakukan dengan diawali lompatan biasa. Setelah semua pemain mendapat giliran, sistim atau aturan melompat, mulai dari awal memasuki putaran karet hingga cara melompat harus sesuai yang disepakati bersama. 

Selain dilakukan seorang diri, lompatan juga dilakukan oleh 2 sampai 3 orang. Biasanya, kesepakatan yang dilakukan antar pemain adalah jumlah lompatan dalam putaran karet yang harus dilakukan setiap pemain. Selain itu kesepakatan yang dilakukan adalah kecepatan karet yang diputar oleh dua orang pemain. Tidak ada istilah kalah dan menang dalam permainan ini bila dilakukan secara perorangan. Mereka yang tidak mampu melakukan kesepakatan aturan, dialah yang mendapat tugas memegang ujung karet dan mendapat perintah sesuai kesepakatan para pemain. Permainan ini biasanya dilakukan oleh tidak lebih dari 10 orang.

                                                                 

                                                              Sapintrong

  1. 7.    PAKAIAN ADAT

Pakaian adat sunda tidak terlepas dari ikat kepala, disebut dengan iket. Pakaian orang sunda, terdiri atas tiga bagian dalam suatu set pakaian untuk laki-laki. Pertama ikat kepala. Kedua, kain baju. Ketiga, sarung.

   Sedangkan untuk perempuan, biasanya terdiri pada selendang atau kemben untuk pakaian bagian atas. Dan kain lunas untuk pakaian bagian bawah. Cara berpakian ini  masih bisa ditemukan di sebagian kecil masyarakt sunda di Desa Nengkelan.

   Ikat kepal pada pakaian adat sunda terbuat dari kain polos atau kain batik. Ukuran lebar kain sekitar 1 m2. Sedangkan untuk kain iket yang memiliki ukuran setengah meter dan bentuk kain terbelah tengah secara diagonal, dikenal dengan setengah iket.

   Ikat kepala berbentuk batik, biasanya memiliki motif batik khusus. Adapun beberapa motif batik yang dikenal sering digunakan untuk bahan iket, diantaranya adalah batik kangkung,batik kumeli, batik sidamukti dan lainnya.

  1. 8.    MAKANAN KHAS TRADISIONAL

   Makanan khas tradisional yang masih bisa ditemukan di Desa Nengkelan yaitu awug. Awug terbuat dari tepung padi, dibungkus dengan daun pisang dan di dalamnya gula merah dicampur degan kelapa parut. Selain itu ada juga katimus. Yaitu makanan khas sunda yang terbuat dari parutan singkong yang didalnya di masukan gula merah dicampur dengan parutan kelapa. Katimus dibungkus dengan daun pisang, dan cara memasaknya yaitu dengan cara di kukus.

   Selain itu ada juga rangginang, opak, kolontong, bajigur, borondong, wajit, kolontong, opak,  dan dapros. Makanan-makanan ini biasanya di sajikan pada saat upacara pernikahan. Makanan ini seolah-olah menjadi mkanan yang khas pada saat upacara perkawinan.

  1. 9.    OBAT TRADISIONAL

Obat-obatan tradisional yang biasa masih di gunakan masyarakat Desa Nengkelan yaitu sebagai berikut.

NO

NAMA TANAMAN

KEGUNAAN

  1.  

Daun seureuh

Mengobati mimisan

  1.  

Pucuk daun jambu

Sakit perut

  1.  

Babadotan

Untuk menyembuhkan luka sayatan

  1.  

Kunyit

Untuk obat Mag

  1.  

Jahe

Untuk masuk angin dan menghangatkan badan

  1.  

Daun sadagori

Untuk asam urat

  1.  

Daun salam

Untuk meningkatkan nafsu makan

  1.  

Ketan hitam

Untuk penyembuhan luka bengkak

  1.  

Waluh siam

Untuk menurunkan panas dan luka bengkak

  1.  

Daun pepeya muda

Untuk menurunkan darah tinggi

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SISTEM KEMASYARAKATAN

  1. 1.        Pemerintahan / Organisasi Kemasyarakatan
  2. a.    Struktur Organisasi Pemerintah Desa

Pemerintah Desa terdiri dari kepala desa dan perangkat desa dan bertanggung jawab kepada BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di bantu oleh organisasi-organisasi mitra dalam bidang-bidang tertentu, seperti LPMD, TP. PKK, MUI, Karang Taruna, RT dan RW, Desa Siaga, Kelompok Tani, Kelompok Simpan Pinjam Perempuan. Desa Nengkelan. Kecamatan Ciwidey menganut sistem kelembagaan pemerintahan desa dengan pola minimal, selengkapnya sbb :

 

Adapun tambahan organisasi yang merupakan mitra dalam bidang tertentu yaitu:

  1. Tim Penggerak PKK dalam bidang pemberdayaan kesejahteraan keluarga
  2. MUI dalam bidang Keagamaan
  3. Karang Taruna dalam bidang kepemudaan
  4. Desa Siaga dalam bidang kesehatan
  5. Kelompok Tani dalam bidang peningkatan pertanian, peternakan dan perikanan
  6. Kelompok Simpan Pinjam Perempuan dalam bidang pemberdayaan ekonomi kelompok perempuan
  7. RT dan RW dalam bidang pemerintahan yang ada dilingkungan RT dan RW
  8. b.   Tugas, Fungsi dan Kewenangan Pemerintah Desa

Pemerintah Desa mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut:

  1. Melaksanakan pembinaan masyarakat desa
  2. Melaksanakan pembinaan perekonomian desa
  3. Melaksanakan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat desa,
  4. Melaksanakan musyawarah penyelesaian perselisihan di desa
  5. Melaksanakan penyusunan dan pengajuan rancangan peraturan desa dan menetapkannya sebagai peraturan desa bersama BPD.

Adapun tugas, fungsi dan wewenang Kepala Desa dan Perangkat Desa adalah sebagai berikut:

1)   Kepala Desa

  1. Kepala Desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan
  2. Dalam melaksanakn tugas diatas, kepala Desa mempunyai wewenang:

1)   Memimpin penyelenggaraan pemerintah desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD

2)   Mengajukan rancangan peraturan desa

3)   Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD

4)   Menyusun dan mengajukan rancangan Peraturan Desa mengenai APBDes untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD

5)   Membina kehidupan masyarakat desa

6)   Membina perekonomian desa

7)   Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif

8)   Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan serta dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

9)   Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2)   Sekretais Desa

  1. Memberikan saran dan pendapat kepada kepala desa
  2. Memimpin atau mengkoordinasikan dan mengendalikan serta mengawasi semua unsur/ kegiatan kesekretariatan desa
  3. Memberikan informasi mengenai keadaan sekretariatan
  4. Merumuskan program kegiatan kepala desa
  5. Melaksanakan urusan surat menyurat, kearsipan dan pelaporan
  6. Mengadakan dan melaksnakan persiapan rapat dan mencatat hasil-hasil rapat
  7. Menyusun Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja Desa
  8. Mengadakan kegiatan inventarisasi (mencatat, mengawasi, memelihara) kekayaan desa
  9. Mengadakan kegiatan pencatatan mutasi tanah dan pencatatan administrasi pertanahan
  10. Melaksanakan administrasi kepegawaian aparat desa
  11. Melaksanakan administrasi kependudukan, administrasi pembangunan, administrasi kemasyarakatan.
  12. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa

3)   Kepala Seksi Pemerintahan

  1. Melaksanakan kegiatan administrasi penduduk di desa
  2. Melaksanakan dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat dalam pembuatan KTP
  3. Melaksanakan administrasi pertanahan
  4. Melaksanakan pencatatan kegiatan monografi desa
  5. Melaksanakan kegiatan kemasyarakatan termasuk  kegiatan ketentraman dan ketertiban serta pertahanan sipil
  6. Melaksanakan penyelenggaraan Buku Administrasi Peraturan Desa dan Keputusan Desa
  7. Melakukan tugas lain yang dberikan kepala desa

4)   Kepala Seksi Perencanaan, Ekonomi dan Pembangunan

  1. Melaksanakan pencatatan dan mempersiapkan bahan guna pembuatan Daftar Usulan Rencana Proyek/ Daftar Usulan Kegiatan serta mencatat Daftar Isian Proyek/ Daftar Isian Kegiatan
  2. Mengikuti dan melaporkan perkembangan keadaan dan kegiatan di bidang pertanian, perindustrian maupun pembangunan lainnya
  3. Mengikuti dan melaporkan perkembangan keadaan perekonomian (Koperasi Unit Desa,Perkreditan, dan Lembaga perekonomian lainnya)
  4. Melaksanakan pencatatan mengenai Tera Ulang dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat dalam hal permohonan ijin usaha, ijin bangunan dan lain-lain.
  5. Melaksanakan kegiatan administrasi pembangunan di desa
  6. Melaksanakan pencatatan hasil swadaya masyarakat dalam pembangunan desa
  7. Menghimpun data potensi desa serta menganalisa dan memeliharanya untuk di kembangkan.
  8. Melaksanakan tugas lain yan diberikan oleh kepala desa.

5)   Kepala Seksi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat

  1. Melaksanakan kegiatan pencatatan keadaan kesejahteraan rakyat/ masyarakat termasuk bencana alam, bantuan sosial, pendidikan dan kebudayaan, kesenian, pemuda dan olah raga. Pramuka dan PMI desa.
  2. Menyelenggarakan inventarisasi penduduk yang Tuna Karya, Tuna Wisma, Tuna Sosial, para penyandang cacat baik mental maupun fisik, yatim piatu, jompo, panti asuhan dan pencatatan dalam rangka memasyarakatkan kembali bekas para narapidana
  3. Mengikuti perkembangan serta melaporkan tentang keadaan kesehatan masyarakat dan kegiatan lainnya di desa.
  4. Mengikuti perkembangan serta mencatat kegiatan program kependudukan (Keluarga Berencana, Ketenagakerjaan, Transmigrasi, dan Lingkungan Hidup.
  5. Melakukan kegiatan pencatatan bagi para peserta jemaah haji di desa.
  6. Melaksanakan kegiatan pencatatan dan perkembangan keagamaan, kegiatan Badan Amil Zakat (BAZ) dan melaksanakan pengurus kematian.
  7. Melaksnakan pembinaan kegiatan DKM, Lumbung Desa
  8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa

6)   Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban

  1. Melakukan kegiatan dalam rangka menjaga ketentraman dan ketertiban
  2. Mengumpulkan dan menganalisa data tentang perkembangan stabilitas keamanan dilingkungan desa.
  3. Melakukan kegiatan yang bekerjasama dengan LINMAS desa untuk menjaga kehidupan masyarakat yang aman, tentram dan kondusif.
  4. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa

7)   Kaur Keuangan

  1. Melakukan kegiatan pencatatan mengenai penghasilan kepala desa dan perangkat desa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Mengumpulkan dan menganalisa data sumber penghasilan desa baru dikembangkan.
  3. Melakukan kegiatan administrasi pajak yang dikelola oleh desa
  4. Melakukan adminstrasi keuangan desa
  5. Merencanakan penyusunan Anggaran Belanja Desa untuk dikonsultasikan dengan BPD.
  6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris Desa

8)   Kaur Umum

  1. Melakukan, menerima dan mengendalikan surat-surat masuk dan keluar serta melaksanakan tata kearsipan.
  2. Melaksanakan pengetikan surat-surat hasil persidangan dan rapat-rapat serta naskah lainnya.
  3. Melaksanakan penyediaan, penyimpanan dan pendistribusian alat-alat tulis serta pemeliharaan dan perbaikan alat peralatan kantor.
  4. Menyusun jadwal serta mengikuti perkembangan pelaksanaan piket.
  5. Melaksanakan dan mengusahakan ketertiban dan kebersihan kantor dan bangunan lain milik desa.
  6. Menyelenggarakan pengelolaan administrasi kepegawaian aparat desa
  7. Melaksnakan pengelolaan Buku Administrasi umum.
  8. Mencatat Inventarisasi kekayaan desa
  9. Melaksanakan persiapan penyelenggaraan rapat dan penerimaan tamu dinas dan kegiatan kerumahtanggaan pada umumnya.
  10. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris desa.

9)   Staf Desa lainnya

  1. Membantu kepala urusan umum dalam menjalankan tugas kerumahtanggaan
  2. Membantu perangkat desa yang lainnya
  3. c.    Sumber penghasilan Kepala Desa

Penghasilan Kepala Desa Nengkelan Kecamatan Ciwidey berasal dari:

1)        Tanah carik desa

2)        Tunjangan pemerintah Desa dan Tunjangan Kegiatan ADD dari APBD Kabupaten Bandung dan APBD Propinsi Jawa Barat

3)        Hasil usaha Kepala Desa

  1. 2.        Hukum Adat/ Norma dan Sanksi

Hukum yang dipakai dan berkembang di Desa Nengkelan adalah Hukum/ Norma campuran yang terdiri dari Hukum Agama, hukum Pemerintah dan Hukum Sosial, yang mana ketiga hukum ini mengatur dan  menata kehidupan masyarakat Desa Nengkelan tanpa terkecuali.

a)      Hukum agama yang dipakai di Desa Nengkelan adalah Hukum Agama Islam yang mana hukum ini mengatur hal keagamaan dan tatanan kehidupan bermasyarakat contohnya: mengatur peribadatan yang disyariatkan dalam islam. Tidak hanya itu hukum ini pula mengatur kehidupan bermasyarakatan seperti: kelahiran, perkawinan, kematian, perdagangan, dan lain-lainnya.

b)       Hukum Pemerintah yaitu hukum yang berlaku di Negara Indonesia. Hukum ini mengatur dalam hal umum seperti: kriminial, sengkeata tanah, dan sistem pemerintahan.

c)      Hukum Sosial yaitu hukum yang berkembang di tengah masyarakat yang dalam prakteknya tidak tertulis dan hanya disepakati oleh warga masyarakat yang memakainya, seperti: perzinaan, perkelahian, dan lain sebagainya.

  1. 3.        Sistem Nilai

a)    Adat yang berkaitan dengan Gotong Royong

Adat ini merupakan adat yang menjadi ciri dari masyarakat perkampungan, yang mana dalam segala aspek kehidupan di perkampungan akan selalu ada, berbeda dengan lingkungan perkotaan yang mana sebagaian masyarakatnya tidak peduli dan sibuk dengan urusannya sendiri. Adat ini merupakan adat yang masih mengakar daging di lingkungan masyarakat Desa Nengkelan pada khususnya.

Masyarakat Desa Nengkelan mempercayai bahwa adat gotong royong merupakan warisan dari “Karuhun” yang harus selalu dilestarikan. Karena dengan gotong royong masyarakat dapat membantu sesamanya dan mencapai kehidupan yang lebih baik.

Adat gotong royong yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Nengkelan seperti: Gotong royong pembersihan lingkungan, pembuatan jalan baru, pembangunan rumah, kegiatan upacara-upacara/ ritual keagamaan serta gotong royong dalam hal siklus kehidupan seperti: kelahiran, khitanan, kawinan dan kematian. Gotong royong pun dipakai masyarakat untuk mempersiapkan dana untuk kegiatan-kefiatan dimasyarakat seperti “perelek”.

                                                  Adat Gotong Royong

b)      Adat yang berkaitan dengan Musyawarah

Adat ini merupakan adat yang mengedepankan “gempungan” atau “ngariung” untuk mencapai mufakat. Adat ini pula digunakan untuk ajang silaturahmi warga masyarakat yang sehari-hari jarang bertermu.

Adat ini masih berkembang dilingkungan masyarakat Desa Nengkelan yang mana masyarakat tidak terlepas dari aturan-aturan dalam musyawarah. Musyawarah di lingkungan Desa Nengkelan digunakan untuk: penyelesaian sengketa, pemilihan ketua RW dan RT,perencanaan kegiatan dilingkungan RT dan RW serta Desa.

                                                                Musyawarah

c)      Adat yang berkaitan dengan Keadilan, Kejujuran dan Kesederhanaan

Adat-adat ini merupakan adat yang sudah jarang sekali ditemui di suatu lingkungan masyarakat. Adat ini merupakan adat yang sebagian kecil masyarakat mempraktekannya.

Adat keadilan, adat ini merupakan adat yang mengedepankan keadilan dalam setiap tatanan kehidupan bermasyarakat. Adat keadilan bukan bermakna bahwa semua harus dibagi rata akan tetapi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Contoh adat ini yang masih berkembang dimasyarakat Desa Nengkelan adalah pembagian air irigasi, yang mana kegiatan ini dalam pelaksanaannya diatur dan dikelola oleh suatu organisasi yang disebut Mitra Cai.

Adat kejujuran, adat ini adalah salah satu adat yang paling sulit dilakukan dimasyarakat. Adat ini adalah bagaimana masyarakat berperilaku jujur dalam kehidupannya.

 

 

BAB IV

SISTEM KESENIAN

  1. 1.    KESENIAN TRADISIONAL
  2. a.    Tarian

 

Tarian yang biasa di sajikan dan masih di lestarikan masyarakat Desa Nengkelan yaitu tari jaipong. Tarian ini biasa di pentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan. Tarian ini dimainkan oleh satu orang atau lebih dan di tarikan oleh perempuan.

Tarian jaipongan biasanya di sandingkan dengan degung dengan penyanyi yang disebut sindendengan membaewakan lagu-lagu sunda dengan nada dan alunan yang khas. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan sinden karena nada dan ritmenya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari. Lagu-lagu sunda yang biasa di nyanyikan adalah bubuy bulan, es lilin, manuk dadali, tokecang dan lain sebagainya.

KESENIAN JAIPONGAN

 

 

  1. b.   Musik

 

   Musik khas sunda yang biasa di sajikan adalah bangkong reang. Alat musik ini terbuat dari bambu dengan cara di pukulkan pada tangan. Dalam pergelaran musik ini biasanya di sajikan dengan humoran atau biasa disebut “bodoran” para pemain ny itu sendiri. Musik ini Musik ini biasa di sajikan pada saat acara pernikahan sebagai bagian dari hiburan untuk masyarakat. Musik ini juga biasa di sajikan pada saat peringat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.

   Daerah yang masih melestarikan musik ini adalah Kampaung Sadakelir RW 09 Desa Nengkelan. Bahkan bangkong reang tersebut sudah ikut perlombaan tingkat provinsi sebagai bagian dari rangkaian perlombaan karang taruna tingkat provinsi.

   Selain bangkong reang, juga ada kacapi suling, yaitu salah satu jenis kesenian sunda yang memadukan suara alunan suling dengan kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh mamos (tembang) sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas sunda. Kesenian kacapi suling masih dilestarikan di Kampung Cisegok RW 04.

Musik daerah yang masih terjaga adalah dogdog, yaitu suatu alat musik dengan cara di pukul dengan menyerupai bedug. Alat musik ini biasanya di mainkan sekurang-kurangny oleh lima orang dengan stu pemimpin yang disebut dalang. Musik ini di selingi dengan “bodoran” untuk menghibur penonton.

Selain itu musik tradisional yang masih dilestarikan di Desa Nengkelan adalah musik calung yaitu alat musik sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Alat musik ini  dimainkan dengan cara memukul batang (wilahan, bilahan) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Ada juga musik tradisional yang lain, yaitu Gondang. Yaitu suatu kesenian yang dimainkan memukul lesung (lisung) dengan alu (halu), biasanya kesenian ini dimainkan oleh kaum perempuan dengan diiringi tarian dan nyanyian. Kesenian ini masih biasa dimainkan di Kp. Cisegok RW 04 Desa Nengkelan.

   Ada juga kesenian jemprak yaitu suatu kesenian yang dimainkan menggunakan alat musik seperti gamelan dengan diiringi kawih sinden. Kesenian ini masih dimainkan di Kampung Cisegok RW 13.

KESENIAN GONDANG

KESENIAN BANGKONG REANG

 

KESENIAN DOGDOG

KESENIAN PENCAK SILAT

 

 

  1. c.    Ukir

 

Seni ukir yang ada di Desa Nengkelan adalah seni golok ukir kayu yang bertepat di kampung ciburuy RT 02 RW 11. Selain golok, pengrajin juga biasa membuat kujang berukir dengan motif yang bervariasi dan yang lainnya.

Seni ukir tersebut banyak di minati untuk di jadikan hiasan yang bernilai seni tinggi sebagai bagian dari melestarikan adat budaya sunda. Banyak instansi pemerintah yang memesan seni ukir golok tersebut untuk di jadikan cendera mata sebagai dari bagian pengenalan budaya kepada daerah lain bahkan manca negara.

  1. 2.    KERAJINAN MASYARAKAT

 

Banyak kerajinan yang biasa di lakukan oleh masyarakat Desa Nengkelan, kerajinan ini biasa di lakukan oleh ibu rumah tangga dan menjadi kerajinan rumahan. Hampir di setiap Rukun Warga (RW) kerajinan tersebut di di berdayakan. Berikut daftar kerajinan yang ada di wilayah Desa Nengkelan.

NO

JENIS KERAJINAN

ALAMAT

KETERANGAN

  1.  

Bilik bambu dan pengrajin golok

RW 01 Nengkelan

 
  1.  

Seni Ukir Golok dan keset

RW 02 Ciburuy

 
  1.  

Makanan olahan (sebring, seblak, ranggening dan klontong)

RW 03 Raedin

 
  1.  

Makanan olahan (rangginang, ranggening dan klontong). Bilik bambu

RW 04 Cisegok

 
  1.  

Makanan olahan

RW 05 Bunisari

 
  1.  

Makanan olahan (rangginang, ranggening dan kripik talas)

RW 06 Sukasirna

 
  1.  

Makanan olahan (opak)

RW 07 Cisaat

 
  1.  

Makanan olahan (borondong, rangginang dan ranggening)

RW 08 Ngamprah

 
  1.  

Makanan olahan (rangginang, ranggening, dapros dan opak)

RW 09 Sadakelir

 
  1.  

Makanan olahan (wajit, kripik pisang, kripik singkong dan kripik talas) Bilik bambu

RW 10 Sikluk

 
  1.  

Makanan olahan (rangginang)

RW 11 Babakan

 
  1.  

Kerajinan golok

RW 12 Sukamanah

 
  1.  

Bilik bambu dan makanan olahan

RW 13 Cisegok Tonggoh

 

BAB V

SISTEM BAHASA DAN AGAMA

  1. A.      BAHASA

 

Manusia dengan bahasa, dan bahasa dengan manusia adalah menyatu. Bahasa milik manusia, manusia memiliki bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi manusiadi suatu wilayah. Manusia menggunakan bahasa dengan manusia lain yang berbedabedastatus. Menggunakan bahasa tidak saja di suatu wilayah (lingkungan) melainkandi wilayah yang berbeda-beda. Selama bahasa digunakan, bahasa itu terus mengalamiperubahan dan penyesuaian, wilayah (tempat), dan waktu. Akibatnya, bahasa harusbersesuaian dengan manusia yang menggunakannya.

Masyarakat Indonesia memiliki banyak bahasa. Selain bahasa daerah danbahasa Indonesia juga bahasa-bahasa asing (misalnya: bahasa Arab, Inggris, Jerman,Jepang, Cina, dan Belanda). Bahasa-bahasa itu digunakan sebagai alat komunikasimemiliki kekhasan masing-masing sehingga dapat digunakan untuk membedakanantar bahasa tersebut. Bahasa itu berbeda-beda namun secara pasti pembatas untukmembedakannya sudah sulit dipastikan. Menurut Rusyana (2007: 2) masyarakatIndonesia adalah masyarakat dwibahasa, atau malah masyarakat aneka bahasa. Dalamsituasi itu, seseorang atau kelompok masyarakat, untuk berbagai keperluan,menggunakan lebih dari satu bahasa, secara berganti-ganti atau secara bercampurbaur. Secara formal, rambu-rambunya dinyatakan dalam Politik Bahasa Nasional,tetapi kenyataan penggunaan bahasa itu ditentukan oleh masyarakat penggunanya.

1. Bahasa dalam Masyarakat

Bahasa dalam masyarakat dapat dijelaskan dari sudut pandang yang berbedabeda.Dalam pembahasan ini dijelaskan beberapa sudut pandangan perihal bahasadalam masyarakat (bangsa) Indonesia.Secara politik bahasa, di Indonesia bahasa dibedakan menjadi: (1) bahasadaerah, (2) bahasa negara (nasional), dan (3) bahasa asing. Bahasa-bahasa daerah(etnik) yang ada di Indonesia dikategorikan dalam bahasa daerah, bahasa Indonesiadikategorikan sebagai bahasa negara dan bahasa nasional Indonesia. Sedangkanbahasa-bahasa yang berada di luar kategori itu dipandang sebagai bahasa asing.Misalnya: bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Cina,dan bahasa Sanskerta adalah bahasa asing yang digunakan di Indonesia.Berdasarkan pemerolehan, bahasa dapat dibedakan menjadi Bahasa Pertama(bahasa ibu atau mother tongue) dan Bahasa Kedua (second language). Bahasa ibumerupakan bahasa yang dimilikinya secara alamiah tanpa dipelajari. Seseorangmemiliki bahasa tersebut melalui perilaku verbal atau berkomunikasi langsung.Adapun bahasa kedua adalah bahasa yang dimilikinya tidak secara alamiah tetap melalui proses belajar atau pembelajaran.

Selain itu, bahasa dalam masyarakat dapat dibedakan berdasarkan penggunaandalam masyarakat. Perbedaan bahasa tersebut adalah:

a. Dialek

b. Idiolek

Adapun yang dimaksud perbedaan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. a.    Dialek

Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan masyarakat dalam satu bahasa. Variasi itu diakibatkan oleh: (1) tempat bahasa itu digunakan (geobahasa), (2) strataatau status sosial, dan (3) temporal waktu.

Misalnya:

1)      Dalam satu bahasa daerah (bahasa Sunda), terdapat perbedaan antara bahasa Sunda di Ciamis dengan bahasa Sunda di Tasikmalaya, juga dengan bahasaSunda di kota-kota lain.

2)      Bahasa Sunda juga dibedakan penggunaannya ketika status orang yangberbahasa berbeda status sosial. Dalam bahasa Sunda dikenal dengan “UndakusukBasa”.

3)      Ada kata-kata, istilah atau tuturan tertentu dalam bahasa Sunda yang saat inisudah tidak digunakan atau jarang digunakan dalam berkomunikasi padahal itusering dan produktif digunakan pada masa lalu. Misalnya: Agan, Aden, pecatsawed, lingsir ngulon, sareureuh budak, janari gede, carangcang tihang,midang, candoli, miwuruk, dan ngahaleuang.

  1. b.    Idiolek

Idiolek adalah variasi bahasa yang menjadi ciri khas individu atau seseorang pada saat berbahasa tertentu. Ciri khusus ini tidak berlaku pada masyarakat penggunabahasa itu.

Misalnya: – “…… ~ken” dari akhiran kan menjadi idiolek Pak Soeharto.

– “Gitu aja kok repot!” ini contoh idiolek dari Gusdur.

– “Merdeka!” menjadi idiolek bagi Ibu Megawati.

– “Lanjutkan!” menjadi idiolek dari SBY.

– “Pokoke kualitatif!” tentu itu idiolek dari Prof. Chaedar.

  1. c.    Prokem

Prokem (pigeon language) adalah varian bahasa yang diakibatkan oleh usia perkembangan atau pencarian identitas diri, dan biasa terjadi pada kalangan remajadengan cara memanipulasi bahasa. Standar (baku) dengan bahasa yang diciptakanbaru. Bahasa ciptaan itu awalnya terbatas penggunaannya, namun itu bisaberkembang menjadi bahasa masyarakat. Misalnya: Coy!, PD, yo’i, nyokap, bokap, EGP (Emang Gua Pikirin), jadul (jaman dulu). Bahasa yang digunakan adalah bahasa sunda. Bahasa sunda adalah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi  oleh masyarakat Desa Nengkelan. Juga sebagai pengembang dan pendukung kebudayaan sunda itu sendiri.  Selain itu bahasa sunda merupakan bagian dari budaya yang memberi karakter yang khas sebagai identitas suku sunda.

  1. B.       AGAMA DAN KITAB SUCI

 

Agama yang dianut masyarakat Desa Nengkelan adalah agama islam. Sementara kitab yang di pakai sebagi acuan dalam mrenjalankan peribadatan adalah al-Quran. Al-quran merupakan mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam al-Quran mencakup :

  1. Ungkap Mengungkap masalalu

Mengungkap masa lalu, sejak penciptaan bumi, malaikat, jin, manusia, sejarah para Nabi, sebab kejayaan satu bangsa, sebab kehancuran satu bangsa,

  1. Mengungkap masa yang akan datang

Salah satu i’jaz (kemukjizatan) al-Quran ialah ungkapan-nya dengan apa yang akan terjadi dan semuanya terbukti.

  1. Mengungkap alam akhirat

Dari ungkapan al-Quran tentang alam akhirat itu, umat islam di tuntut:

Pertama, Mengimani adanya akhirat dengan surga dan neraka

Kedua, Membenarkan dengan surga dan nerakanya

Ketiga, Meyakini seyakin-yakinnya bakal terjadinya kebangkitan dengan surga dan nerakanya.

 

 

 

 

 

BAB VI

PERMASALAHAN DAN USULAN

            Adanya kondisi yang menunjukan lemahnya daya hidup dan mutu kebudayaan sunda disebabkan karena ketidak jelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis, dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas sunda. Ketidak jelasan strategi kebudayaan yang bener dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan sunda tampak dari tidak adanya “pegangan bersama” yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadailan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan sunda.

            Apalagi jika kita menengok sekarang ini kebudayaan sunda dihadapkan pada pengeruh budaya luar. Jika kita tidak pandai-pandai dalam memanajemen masukan budaya luar maka kebudayaan sunda ini lama kelamaan akan luntur bersama waktu. Berbagai unsur kebudayaan sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai.

            Salahsatu contoh berbagai makanan tradisional yang dimiliki orang sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong ranginang dan lain sebagainya, apakah ada upaya pemerintah untuk lebih di kenal agar di terima komunitas yang lebih luas. Lemahnya budaya baca, tulis dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan budaya tulis.  Lemahnya budaya tulis pada komunitas sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan sunda ataupun karya tulis  yang ditulis oleh orang sunda.

            Semua itu harus ada kerjasama antara berbagai pihak yang berkaitan dengan kebudayaan sunda. Dalam hal ini pemerintah harus membuat peraturan daerah yang jelas mengenai adat budaya desa, sehingga semua masyarakat akan merasa terikat dengan budayanya sendiri khussnya budaaya sunda.

 

DOKUMENTASI KEGIATAN

KESENIAN BANGKONG REANG

KESENIAN GON DANG

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.